PEMIMPIN YANG MEWARISKAN BUDAYA

“Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea,berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu.”(Lukas 23:49)

Dalam sebuah buku digambarkan bagaimana sebuah organisasi akan mengalami ketidakseimbangan dan akhirnya organisasi tersebut runtuh, ketika organisasi tersebut tiba-tiba ditinggalkan oleh pemimpinnya.   Konon penyebabnya adalah pemimpin tidak sanggup mentransformasi value dari organisasinya menjadi suatu culture, atau  tidak sanggup mewujudkan sesuatu yang abstrak (value) menjadi sesuatu yang kongkret (culture).
 
Sulit menggambarkan perasaan apa yang berkecamuk di setiap hati para murid ketika menghadapi kenyataan orang yang terdekat selama ini: guru dan pemimpin mereka ditangkap kemudian mati tergantung di atas kayu salib (ay 49).   Setelah Yesus mati di hari Jumat, setelah lewat sore hari para murid melewatkan hari sabat mereka sebagai sebuah sabat yang gelap dan sunyi. Perasaan ketakutan luar biasa meliputi mereka.  Selain perasaan takut mereka juga diliputi rasa kecewa, karena  apa yang
mereka harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan (ingat permintaan murid untuk duduk disebelah kanan dan kiri Yesus).  Yesus yang mereka pikir akan maju menjadi pemimpin politik, ternyata diluar dugaan mereka sama sekali justru Yesus tidak berdaya di atas kayu salib.  Kini hidup mereka seperti dalam ancaman, dan kini mereka bersembunyi.  Itulah gambaran sabtu atau sabat yang sunyi para murid, sabat yang tanpa harapan masa depan yang entah bagaimana.  

Namun dalam episode berikutnya sabtu yang tanpa harapan itu berubah sedemikian rupa dengan adanya peristiwa kebangkitan.  Momen paskah membuat murid tetap utuh dan bersatu. Selain pekerjaan Roh Kudus atas mereka, tidak dipungkiri Tuhan Yesus mengupayakan sendiri (selama tiga tahun) mengongkretkan nilai-nilai (ajaran-ajaran) tersebut menjadi sebuah hal yang nyata atau membudayakan dalam tindakan-tindakan nyata yang dicontohkan sendiri oleh Yesus. (ITW)
 
Refleksi: 
Nilai-nilai Kristiani Maranatha tidak sekedar slogan namun perlu diwujudkan dalam tindakan agar nilai tersebut menjadi budaya