DUA SISI KEBENARAN: INTEGRITAS & KEJUJURAN

“Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri?…”(Roma 2:21a)

Apa persamaan dan perbedaan antara Integritas dan Kejujuran? Pdt. Dr.
Joas Adiprasetya pernah mendeskripsikannya, seperti ini: “Kejujuran
adalah mengatakan yang benar kepada orang lain, sedangkan integritas
sesungguhnya adalah mengatakan yang benar kepada dirinya sendiri”. Dengan kata lain, persamaan keduanya adalah sama-sama bertumpu pada nilai-nilai kebenaran,sedangkan perbedaannya adalah kejujuran berada pada interaksi dengan orang lain,integritas berada pada penghayatan pada dirinya sendiri.

Pengertian yang sangat menarik untuk semakin memahami arti tentang integritas.Siapapun bisa saja mengatakan apapun kepada orang lain, entah itu jujur ataubohong, karena orang lain tidak akan pernah tahu apakah ia mengatakan jujur atauberbohong.  Akan tetapi, siapapun tak akan pernah bisa membohongi dirinya sendiri. Itulah integritas. Karena itu, siapa yang paling menentukan terjadinya keselarasan antara kata dan perbuatan, ya, dirinya sendiri!

Perikop Roma 2:17-24, mengisahkan tentang orang-orang Yahudi yang cenderung tak berintegritas. Mereka tahu bagaimana memuliakan Tuhan, tahu kehendak-Nya, tahu yang baik dan yang jahat, tetapi hal itu tidak mereka lakukan. Mereka senantiasa mengajarkan kebenaran kepada orang lain, tetapi mereka sendiri tidak melakukan kebenaran itu. Paulus merincinya seperti ini, “Engkau yang mengajar:“Jangan mencuri”, mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: “Jangan
berzinah”, mengapa engkau sendiri berzinah?” (ay. 21-22).

Dalam dunia pendidikan, kita bisa saja mengatakan dan mengajarkan apapun kepada naradidik. Mereka pun tak akan tahu kita mengatakan yang sesungguhnya atau tidak. Akan tetapi, pengajaran yang terbaik akan selalu ada melalui keteladanan orang yang mengajar. Mengajar atau memimpin dengan keteladanan ternyata lebih efektif mencapai tujuan. Firman Tuhan mengatakan, “jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu” (Tit. 2:7). Mari, senantiasa kita memimpin dengan integritas, kini siapa yang menjadi saksi kita dalam memberlakukan integritas, ya, diri kitasendiri. (FH)
Refleksi:
Siapa yang paling dekat dengan kita yang akan senantiasa mengingatkan kita untukberintegritas setiap waktu, ia adalah hati nurani kita sendiri.