13 YEARS A SLAVE

13 YEARS A SLAVE

“Memang kamu telah mereka-reka yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekanya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20)

Beberapa waktu lalu, di bioskop-bioskop ditayangkan sebuah film berjudul
“12 Years a Slave.”Film ini berhasil meraih piala Oscar untuk kategori best
picture. Film “12 Years a Slave”adalah sebuah film drama yang mengisahkan tentang seorang berkulit hitam merdeka yang diakali oleh penjual budak kemudian dijual sebagai budak untuk bekerja di perkebunan kapas selama 12 tahun sebelum akhirnya dibebaskan. Film ini merupakan kisah nyata yang mengharukan mengenai perjuangan dan pengharapan yang gigih akan kebebasan.

Alkitab juga mencatat tentang kisah yang lebih seru tentang seorang anak muda berumur 17 tahun yang dijual sebagai budak. Ia adalah anak bungsu yang dijual oleh saudara-saudaranya karena ia, anak kesayangan sang ayah. Sungguh diluar dugaan dan tak pernah terbayangkan oleh Yusuf. Perasaan dikhianati dan terbuang, perasaan takut akan masa depannya selama dalam perjalanan menuju Mesir. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya, selain akan menjadi budak yang harus bekerja keras. Kehidupannya berubah drastis dari seorang anak kesayangan yang terbiasa hidup nyaman harus menjalani hidup sebagai seorang budak. Dalam keadaan tak ada harapan dan pertolongan dari pihak manapun, maka Allah Sang Pemegang Kendali atas hidup manusia membalikkan keadaan Yusuf dari seorang narapidana menjadi orang paling berkuasa setelah Firaun di Mesir. Yusuf berumur 30 tahun ketika menjadi orang kedua di Mesir. Ini berarti selama 13 tahun ia telah menjadi budak.

Perlu 13 tahun untuk seorang Yusuf mampu mengucapkan “Memang kamu telah mereka-reka yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekanya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Yusuf berhasil melewati proses panjang dalam hidupnya. Pembentukan Allah atas kehidupan Yusuf membuat ia menjadi pribadi yang lebih baik. Proses bertujuan agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Kebanyakan orang percaya hanya menginginkan promosi, berkat, dan kesuksesan, namun tidak ingin melewati proses. Dari hidup Yusuf, maka kita belajar untuk menikmati proses dan tetap mempercayai Allah sebagai Sang Pemegang
Kendali atas Segala Sesuatu. (YG)

Refleksi :
Proses dalam kehidupan bertujuan untuk mejadikan kita pribadi yang lebih baik.