KEANGKUHAN YANG MENJERAT DAN YANG BISA

“Kemudian Haman disulakan pada tiang yang didirikannya untuk Mordekai.Maka surutlah panas hati raja.”  (Ester 7:10)

Alkisah dalam buku yang ditulis oleh Herodion Pitakarya Gunawan bercerita tentang seekor burung gagak yang diberi judul “Burung Gagak yang Jahat”. Burung gagak dalam cerita ini digambarkan bertubuh besar, gagah dan angkuh. Ia marah pada burung kutilang yang tidak takut padanya. Suatu hari datang seorang pemburu ke hutan. Gagak menghasut si pemburu untuk memanah si kutilang dengan
menawarkan bulunya sebagai anak panah. Namun, si pemburu berulang-ulang gagal memanah si burung kutilang hingga bulu burung gagak habis. Karena kesal tidak mendapatkan hasil buruan, sebagai gantinya pemburu menangkap gagak yang kini tidak dapat terbang karena bulunya sudah habis.
Haman, pembesar Kerajaan Persia, juga angkuh. Ketika Mordekhai, pegawai di gerbang istana, tidak bersedia menyembah ia marah. Ia pun menggunakan jabatan dan kedudukan politiknya untuk membunuh Mordekhai beserta seluruh orang Yahudi di kerajaan itu. Namun, tipu muslihatnya itu disingkap oleh Ester sehingga Raja Ahasyweros murka (Ester 7:1-7). Raja semakin murka ketika Haman melanggar kesusilaan istana dengan berlutut dan memohon kepada Ester yang tengah berbaring. Raja akhirnya memerintahkan agar Haman disulakan (ayat 7-9). Ironisnya Haman disulakan pada tiang yang disediakan untuk menyulakan Mordekhai (ayat 10). Ia akhirnya jatuh karena keangkuhannya.

Keangkuhan dapat menjerat kita dalam kebencian dan kepicikan. Sama halnya ketika kita menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang dipenuhi oleh rasa keangkuhan, tinggi hati tanpa melihat orang lain yang dipimpinnya, akan menggunakan cara yang penuh kebencian, kepicikan dan kemarahan. Padahal tanpa menggunakan hal tersebut, mengambil hati bawahan, mengajak bicara akan jauh lebih baik bagi seorang pemimpin terhadap bawahannya. Keangkuhan seorang pemimpin terhadap bawahannya akan menjerat pemimpin itu sendiri pada kejatuhannya. Menjadi pemimpin yang punya integritas baik, memiliki visi yang jelas akan membantu mewujudkan Maranatha mengarah ke pencapaian visi, misi, dan tujuan. (CSB)
Refleksi :
Berpegang teguh pada firman Tuhan dapat menghindarkan kita dari jerat
keangkuhan.