PERKATAANMU MENUNJUKKAN PIKIRANMU

“… barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.” (Yakobus 3:2b)

Manakah yang paling sering kita ucapkan dan dengarkan dalam keseharian: hal baik atau jahat? Baik atau jahat, keduanya sama-sama berdampak dalam kehidupan, baik ia yang mengucapkan maupun yang mendengarkan. Misalkan, seseorang yang terlalu sering mendengarkan kata-kata kasar, maka ia akan menganggap dirinya tak berdaya, tak percaya diri, dan tak berharga. Begitupula, seseorang yang terlalu sering mengucapkan kata-kata kasar, justru ia akan lebih mudah stress, sulit berpikir logis, kemampuan berbahasa dan berkomunikasinya lemah, serta fungsi memori otaknya semakin menurun.

Kini, bayangkanlah dampak perkataan seorang pemimpin! Melalui perkataannya, ia akan cepat ditiru; perintahnya akan dengan mudah dilaksanakan. Tapi apa jadinya, jika perkataan yang keluar dari seorang pemimpin tidak menunjukkan hal yang patut ditiru, bagaimana orang lain dapat mematuhinya.

Surat Yakobus ini menyatakan nasihat agar kita tidak menjadi guru “yang salah”. Di jaman Yakobus, guru dipandang sebagai seorang yang terhormat, sehingga banyak orang berlomba menjadi guru, tanpa sesungguhnya mereka menyadari peran penting seorang guru! Dengan demikian, banyak ditemukan orang-orang yang menjadi guru hanya sekadar status saja, tapi dalam kesehariannya tidak menunjukkan perilaku yang pantas ditiru dan perkataannya santun. Karena itu, bagi Yakobus, dosa karena lidah sangat besar dampaknya. Yakobus mengatakan bahwa perkataan kotor dan kasar “dapat membakar hutan yang besar dan penuh racun yang mematikan” (Yak. 3:5b, 8b). Akhirnya, semakin jelaslah bahwa perkataan seseorang tidak hanya berdampak bagi orang yang mendengarnya, tetapi juga bagi dirinya sendiri.

Kita bekerja di sebuah lembaga pendidikan, yang berperan membentuk dan membina tiap orang agar dapat berkata dan bertindak dengan baik, bukan sebaliknya! Karena itu, peran kita sebagai seorang pemimpin (dhi. Pengajar) adalah ikut terlibat dalam proses  humanisasi  (memanusiakan, manusia!),  bukan  dehumanisasi. Caranya, seorang pemimpin hendaknya memiliki integritas, yang terpancar melalui apa yang dikatakannya. Perkataan yang keluar dari mulut adalah cerminan dari apa yang kita pikirkan. Karena itu mulailah berpikir hal baik, sehingga kita dapat bertutur dengan baik. (FH)
Refleksi:
Jika kita diberikan kesempatan untuk memimpin, maka memimpinlah dengan integritas, khususnya dalam pikiran, perkataan, dan perbuatamu. Karena, di sanalah jatidirimu berada.