KATAKAN BENAR JIKA BENAR, KATAKAN SALAH JIKA SALAH

“… ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”” (Matius 27:24)“

Yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus…”,
sepenggal kalimat yang merupakan credo  (Pengakuan Iman Rasuli), yang seringkali diucapkan saat Kebaktian Minggu di gereja. Menarik bahwa dalam rumusan pengakuan iman orang percaya memasukkan unsur atau nama seorang pejabat pemerintah yang sebenarnya ikut serta menjatuhkan hukuman salib kepada Yesus Kristus. Meskipun Pontius Pilatus mengelak dengan mengatakan bahwa “aku tidak bersalah terhadap darah orang ini, itu urusan kamu sendiri” (Mat. 27:24), akan tetapi keputusannya tersebut justru membuat Yesus dijatuhi hukuman.

Ada banyak tafsiran yang menyebutkan alasan Pontius Pilatus tidak cukup berani menentang suara kerumunan orang Yahudi saat itu. Beberapa menyebutkan bahwa ia ingin jabatannya aman; ia tidak ingin dipindahkan atau digeser kedudukannya oleh kaisar Romawi karena dianggap tidak mampu mengurus konflik yang terjadi di Yerusalem. Padahal Pilatus sendiri sadar dan yakin betul bahwa tidak sedikit pun ia
menemukan kesalahan pada diri Yesus (lih. Luk. 23:4, “Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada orang ini’).  Namun akhirnya, ia harus kalah; kalah dengan suara massa (orang banyak); kalah dengan ketakutannya (bahwa kedudukannya akan bergeser); kalah dengan nuraninya!

Gambaran Pilatus adalah gambaran kita, manusia yang disebut sebagai orang percaya. Jangankan bertindak benar, untuk dapat berkata benar pun menjadi sulit bagi kita. Kita lebih memilih berdiam diri dan enggan ikut campur sekaligus merasa bukan urusan kita. Padahal ketidakadilan, pengkhianatan, penderitaan lalu lalang di depan kehidupan kita. Sama halnya seperti Pilatus, kita tidak ingin kedudukan bergeser, tidak ingin ikut campur, tidak ingin menambah masalah dalam hidup. Persoalannya, kehadiran orang percaya di dunia untuk menyuarakan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan mewujudkan keutuhan ciptaan. Jika orang percaya diam seribu bahasa melihat berbagai persoalan yang terjadi lantas bagaimana damai sejahtera Allah dapat dirasakan banyak orang. (FH)
Refleksi:
Pontius Pilatus menjadi cerminan bagi kita untuk mampu menyuarakan kebenaran, keadilan, dan mewujudkan keutuhan ciptaan. Jangan diam melihat praktik ketidakadilan dan ketidakbenaran, karena di sanalah kita sebagai anak-anak-Nya diutus menyuarakan kasihNya.