HIDUP DIPERKENAN TUHAN

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”(Roma 12:2)

Seorang pemuda mencintai seorang wanita. Tiga tahun setelah hubungan mereka berlangsung, sang pemuda ini merasakan semakin lama semakin renggang hubungannya. Dia merasa sedih dan berkonsultasi dengan pembimbing rohaninya. Pembimbingnya memberikan suatu pandangan baru pada pemuda itu. Pemuda itu kemudian menyadari bahwa Tuhan telah memberikan tugas untuk membimbing temannya agar percaya kepada Tuhan. Hubungan dengan temannya tidak berarti harus berakhir di pernikahan. Setelah itu pemuda ini pun mengajak berdialog “temannya” itu. Kesimpulan dari dialog tersebut membuat kedua pihak merasa lega. Keduanya memutuskan untuk melanjutkan hubungan sebagai orang yang saling membantu dalam pertumbuhan iman kepada Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita seperti pemuda di atas. Kita cenderung melihat kejadian di hidup kita dengan kacamata diri sendiri. Kita lupa bahwa hal yang terpenting adalah Tuhan berkenan dalam kehidupan kita.

Renungan kita hari ini adalah melihat kejadian dalam kehidupan kita dengan kacamata iman kepada Tuhan. Mari kita renungkan kejadian pembuangan bangsa Israel ke Babel. Sebelum Babel menyerang Israel, bangsa itu bukan tidak diberi peringatan oleh Tuhan. Mereka terus menerus diingatkan oleh para nabi bahwa mereka telah menyimpang dan Tuhan tidak berkenan. Tetapi walaupun peringatan-peringatan itu telah diberikan, mereka tidak mengalami perubahan. Kejadian sehari-hari berlalu dalam kenyamanan sehingga mata mereka seolah-olah tertutup. Mereka
tidak membuka diri untuk sadar bahwa ada Tuhan yang melihat perbuatan mereka dan tidak berkenan pada perbuatan mereka.

Kita hidup di zaman teknologi yang memberikan banyak kenyamanan bagi kita. Internet membuka wawasan kita dalam banyak pengetahuan. Kejadian-kejadian di dunia lain bisa kita ketahui dalam waktu singkat. Trend dan gaya hidup dengan mudah masuk ke dalam kehidupan kita. Dalam segala kenyamanan ini, kita harus selalu waspada. Kita harus selalu ingat semua ini hanya sementara. Kita harus ingat bahwa ada wawasan, pengetahuan, trend, nilai, dan gaya hidup yang tidak
diperkenan oleh Tuhan. Jangan lupa bahwa Tuhan mengawasi kita. (AS)
Refleksi:
Apakah selama ini kehidupan saya berkenan di mata Tuhan? Apa saja yang bisa kita buang agar Tuhan bisa bekenan?