KEJATUHAN SAUL

“Sampai hari matinya Samuel tidak melihat Saul lagi, tetapi Samuel berdukacita karena Saul. Dan TUHAN menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel.”(1 Samuel 15:35)

Kita semua tahu tentang Saul, raja pertama bangsa Israel. Awalnya Tuhan memilih Saul, tetapi mengapa Saul pada akhirnya ditolak oleh Tuhan? Ada tiga hal yang ingin kita renungkan hari ini. Hal yang pertama, Saul tidak sabar dalam menanti waktunya Tuhan. (1 Samuel 13) pada saat orang Filistin berkemah di Mikhmas dan bangsa Israel ketakutan, Saul menanti Samuel selama 7 hari, tetapi Samuel tidak datang, rakyat mulai meninggalkan Saul. Saul kemudian mengambil pekerjaan Samuel dan mengorbankan korban bakaran kepada Tuhan. Tindakan Saul dikecam oleh Samuel sebagai tindakan yang bodoh (1 Samuel 13:13).

Hal yang kedua, Saul berkompromi terhadap perintah Tuhan. Tragedi mengorbankan korban bakaran kepada Tuhan menggantikan Samuel, juga bisa dilihat sebagai sikap Saul yang tidak mengindahkan perintah Tuhan sebagai perintah yang harus ditaati. Saul memiliki pemikiran dalam keadaan mendesak, perintah Tuhan bisa dilanggar asalkan hal yang dilakukan adalah baik. Peristiwa lainnya muncul ketika Tuhan memerintahkan Saul untuk menyerang orang Amalek (1 Samuel 15:3) dan
menumpas segala yang ada pada orang Amalek. Tetapi Saul tidak melakukan semua perintah Tuhan (1 Samuel 15:20-21) Saul memang menumpas orang Amalek, tetapi kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik tidak ditumpas dengan alasan dikhususkan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Samuel mengecam tindakan Saul. “mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1 Samuel 15:22).

Hal yang ketiga, Saul “takut” kepada kata-kata yang diucapkan oleh orang lain. 1 Samuel 15:24 menunjukkan bagaimana Saul mau mengakui esalahannya, tetapi dia takut apa yang akan dikatakan rakyatnya tentang dirinya, sehingga dia memohon Samuel untuk tetap bersamanya menyembah Tuhan agar rakyat tidak menjadikan kesalahan yang dilakukan Saul sebagai buah bibir.

Bila kita renungkan, ketidaksabaran, kompromi terhadap Firman Tuhan dan ketakutan dipersalahkan oleh orang-orang sekitar kita, sering merupakan kelemahan kita dalam kehidupan. Mari kita belajar untuk bersabar, taat sepenuhnya kepada Firman Tuhan dan berani dalam kehidupan kita, agar kehidupan kita bisa berkenan di hadapan Tuhan.(AS)
Refleksi:
Seberapa taatkah kita pada Firman Tuhan?