WASPADAILAH DIRI SENDIRI

“ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23)

Ada sebuah kapal diamuk badai yang amat dahsyat sehingga semua awak kapal dilanda kecemasan. Tiba-tiba mereka mendengar suara benturan yang lebih keras daripada suara debur ombak. Rasa rasanya suara itu berasal dari ruang bawah kapal. Beberapa orang segera lari ke sana untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata semua itu berasal dari meriam yang menabrak dinding kapal karena meriam itu terlepas dari ikatannya. Betapa cemas hati mereka karena posisi meriam itu sedang siap meluncur dan akan menabrak lambung kapal yang sedang oleng itu. Tanpa memikirkan resiko diri sendiri, dua awak kapal segera turun tangan untuk mengatasi bahaya besar yang mengancam semua penumpang. Mereka sadar bahwa benturan meriam ke lambung kapal jauh lebih berbahaya daripada amukan badai. Apa yang dapat kita pelajari dari ilustrasi tersebut?

Amsal memberikan sebuah nasehat yang amat berharga mengenai hati kita. Sebelum seseorang melakukan sesuatu, terlebih dahulu apa yang akan ia lakukan sudah terlintas di dalam hatinya. Perbuatan dan perkataan seseorang terpancar dari dalam hatinya. Hati kita turut menentukan keselamatan hidup kita. Hati yang jahat akan membahayakan hidup kita sendiri. Menjaga hati dengan segala kewaspadaan sangatlah penting. Firman Tuhan harus selalu melekat di dalam hati kita karena sangat mempengaruhi hidup kita. Jika Firman Tuhan selalu kita renungkan siang dan malam, maka hati kitapun akan memancarkan apa yang kita renungkan itu. Sebaliknya, jika hal hal yang bertentangan dengan kehendak Allah selalu kita renungkan di dalam hati, maka hal-hal itulah yang nampak di dalam hidup kita.

Sangatlah penting bagi kita untuk selalu waspada terhadap apa yang mempengaruhi suasana hati kita. Baik buruknya kehidupan kita akan sangat ditentukan dari apa yang ada dalam hati kita. Marilah kita berikan hati kita untuk selalu dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Tuhan. Dengan demikian apa yang nampak di dalam kehidupan kita adalah buah yang sesuai, yaitu yang memuliakan Tuhan. (RPA)

Refleksi :

Bersediakah hati kita dipimpin oleh Roh Tuhan?