ALLAH MENCIPTA, MANUSIA TURUT SERTA

“Langit itu langit kepunyaan TUHAN, dan bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-
anak manusia”
(Mazmur 115:16).

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa dalam penciptaan, Allah mendirikan
bagi manusia tiga relasi yang sangat fundamental.
1.  Relasi dengan Allah,  sebab Ia menciptakan mereka dalam gambar dan
rupa-Nya; 
2.  Relasi manusia yang satu terhadap yang lain, sebab umat manusia
merupakan makhluk yang majemuk sejak mulanya, dan
3.  Relasi terhadap bumi yang diciptakan, beserta dengan segala ciptaan
didalamnya.
Selanjutnya, ketiga relasi ini menyimpang akibat kejatuhan. Adam dan Hawa
terpisah dari hadirat Tuhan Allah di taman tersebut, mereka saling menyalahkan
satu dengan yang lain untuk apa yang telah terjadi, dan bumi yang baik terkutuk
akibat ketidaktaatan mereka.
Jika demikian, bagaimana seharusnya kita menyikapi bumi yang terkutuk ini ?
Jika kita mengingat bahwa ciptaan dihadirkan oleh Allah dan didelegasikan kepada
kita, kita akan menghindarkan diri dari dua posisi ekstrem yang saling bertolak
belakang, dan sebaliknya kita akan mengembangkan relasi ketiga. Pertama, kita
akan menghindarkan diri dari mengilahkan alam, mempercayai bahwa bumi adalah
superorganisme yangmampu menyesuaikan diri dan juga memelihara kehidupan yang
berjalan didalamnya.  Sifat pada alam itu mandiri, memiliki mekanisme keteraturan
sendiri, dan mampu memperbarui diri sendiri.Kedua, kita harus menghindarkan
diri dari posisi ekstrem yang sebaliknya, yakni eksploitasi alam. Ini  adalah tindakan
yang arogan terhadap alam bahwa seolah-olah kita adalah Allah Ketiga dan yang
tepat antara umat manusia dan alam adalah kerjasama dengan Allah. Tentu saja,
kita sendiri adalah bagian dari ciptaan, sama bergantungnya kepada Pencipta
sebagaimana semua ciptaan-Nya yang lain. Namun pada saat yang sama, Allah
menghargai manusia sebagai mitra-Nya.  Ia menciptakan bumi ini, namun kemudian
memerintahkan kita untuk menaklukkannya. Ia menjadikan sebuah mengusahakan
dan memeliharanya” (Kejadian 2:15). Ini sering disebut sebagai mandatbudaya.
Sebab apa yang telah Allah berikan kepada kita disebut “alam”, sedangkan apa
yang kita lakukan terhadap alam disebut “budaya”. Kita tidak hanya dipanggil untuk
melestarikan alam, tapi juga untukmengembangkan sumber-sumber daya yang ada
di dalamnya bagi kebaikan bersama. (IH)
Refleksi :
Adalah suatu penghargaan ketika Allah menjadikan manusia sebagai mitraNya
dalam memelihara ciptaan-Nya. Jangan salah gunakan kepercayaan ini.