MEMULIAKAN CIPTAAN TUHAN

“Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh
belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.”
( Amsal 14:31)

Ada suatu kisah nyata dari suatu siaran televisi yang tidak pernah saya lupakan 
(yang saya lupa nama siarannya dan setasiun televisinya). Kisahnya tentang
seorang ibu yang bekerja serabutan di pasar, sebagai buruh pengupas
bawang, ‘bakul’ pembawa barang belanjaan dan pekerjaan lain. Setiap hari, ibu
ini mendapatkan uang sekitar Rp. 30.000,- Hal yang berkesan bagi saya, dari hasil
keringatnya itu ibu ini  sisihkan Rp. 20.000,- untuk tetangganya, seorang anak yang
lumpuh. Bagi dirinya, cukup uang Rp. 10.000,- untuk kebutuhan hari itu.
Saat kita berinteraksi dengan seseorang, kita harus selalu menyadari bahwa orang
itu adalah ciptaan Allah dan bahwa Allah mengasihi orang itu. Tidak ada orang
yang sedemikian menyebalkan sehingga Allah tidak mengasihi dia lagi. Dalam kitab
Yunus, Allah mengungkapkan bahwa Ia mengasihi orang-orang Niniwe (Yunus 4:11),
padahal bangsa Niniwe adalah bangsa yang jahat dan merupakan musuh umat Allah.
Nabi Yunus sulit menerima kenyataan tersebut sehingga ia tetap menginginkan
dijatuhkannya hukuman Allah terhadap bangsa Niniwe.
Bagaimana sikap kita saat kita melihat sesama kita yang miskin, menderita, sakit,
atau menghadapi masalah yang berat? Apakah hati kita tergerak oleh belas kasihan
dan berusaha menolongnya? Bagaimana sikap kita saat berhadapan dengan orang
yang kelakuannya jahat dan sikapnya menjengkelkan? Apakah kita dapat  melihat
orang itu sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang harus dikasihi?
Bila kita hanya bisa mengasihi dan berbuat baik terhadap orang yang baik terhadap
diri kita, kita tidak lebih baik daripada orang-orang berdosa (Lukas 6:33). Bila kita
hendak menjadi garam yang mengasinkan atau terang yang menerangi dunia yang
berdosa ini, kita harus bersedia untuk berbuat baik terhadap semua orang, termasuk
terhadap orang yang kelakuannya jahat dan sikapnya menjengkelkan. Dengan
demikian, kita telah meneladani  Tuhan Yesus yang rela mati bagi manusia berdosa.
Apa jadinya bila orang yang lemah, dan tidak berdaya bila ditindas. Pastinya mereka
semakin tidak punya daya. Panggilan kita untuk memberdayakan mereka.(IH)
Refleksi :
Tindakan yang paling Tuhan benci adalah memperdaya orang-orang yang tidak
berdaya. SebaliknyaTuhan memuji mereka yang memberdayakan orang-orang yang
tidak berdaya.