PEMIMPIN YANG PEDULI

“untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan
kejujuran” (Amsal 1 : 3)

Kepemimpinan merupakan suatu kondisi di mana seseorang menjadi pusat
perhatian, pusat kegiatan, dan pusat pengambilan keputusan. Hampir semua
kegiatan tergantung kepada keputusan atau perintah dari pemimpin. Hal ini
tentu saja menjadi sesuatu yang penting bahwa seorang pemimpin harus memiliki
berbagai kelebihan dari orang yang dipimpinnya. Ada dua kemungkinan yang
terjadi. Kemungkinan yang pertama : Pemimpin akan merasa paling benar, apa
yang dia pikirkan harus dilakukan. Pemimpin merasa tidak perlu mendengar. Tidak
perlu diarahkan apalagi dinasehati. Sebaliknya kemungkinan yang kedua pemimpin
menyadari bahwa sebagai manusia dia tidaklah sempurna. Oleh karena itu dia akan
rajin mendengar dan menerima masukkan, terlibat dalam berbagai kegiatan agar
dapat mengenali orang orang yang dipimpin termasuk kebiasaan dan karakter yang
mereka miliki.
Bila kita disuruh memilih pemimpin seperti apakah yang baik menurut kita maka
pastilah kita memilih kemungkinan yang kedua dan akan menghindari kemungkinan
yang pertama. Namun bila pertanyaannya dibalik, bagaimana jika saya atau Anda yang
jadi pemimpin. Apakah jawaban kita masih tetap sama. Bukankah kecenderungan
bijaksana itu terjadi ketika seseorang merasa “diuntungkan” namun sebaliknya saat
merasa tidak diuntungkan orang bukan menjadi bijaksana tapi menjadi bijaksini.
(artinya selama menyenangkan buat saya dan nyaman bagi saya).
Keadaan seperti ini seolah sudah menyatu dalam kehidupan. Sulit sekali menemukan
seorang pemimpin yang peduli. Kepedulian mereka akan tampak jika ada manfaat
yang diperoleh secara pribadi. Padahal kepedulian yang sesungguhnya adalah
kepedulian yang tanpa pamrih. Bukankah saat kita memberi tanpa pamrih, maka
kita tidak akan kecewa bila orang lain tidak berterimakasih atau melakukan sesuatu
yang sesuai dengan yang kita harapkan?
Kepedulian lembaga lembaga kristen saat ini sering menjadi sorotan. Nilai kepedulian
yang selama ini menjadi icon, menjadi kebangggaan seolah sirna ditelan zaman.
Kehadiran Tuhan Yesus lebih dari dua ribu tahun lalu yang hadir sebagai orang yang
melayani dan bukan dilayani tidak berbekas. (SG)
Refleksi :
Adakah nilai kepedulian itu masih menyatu dalam kehidupan kita? Masihkah nilai
kepedulian itu bisa dirasakan oleh orang lain?