MELAKUKAN APA YANG BENAR

Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup sama seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.
 (2 Raja-raja 22:2)

Ibu Tien adalah seorang janda yang memiliki dua anak. Mantan suaminya adalah
seorang penjudi  yang tidak pernah bertanggung jawab kepada keluarganya.
Melihat perilaku ayah ini, anak-anaknya mengambil komitmen untuk tidak
mengikuti gaya hidup ayahnya. Hal ini mendorong anak-anaknya untuk memiliki
kualitas hidup yang lebih baik. Perilaku buruk orang tua tidak selalu diwariskan atau
diikuti anak-anaknya. Keputusan anak-anak Ibu Tien adalah suatu langkah baik untuk
masa depan mereka.
Dalam nas hari ini, kita dapat belajar dari seorang muda bernama Yosia. Usia delapan
tahun sudah mulai memerintah dan yang menarik dari hidupnya ia melakukan apa
yang benar di mata TUHAN. Sungguh sebuah hal yang patut dibanggakan dan ditiru
karena di tengah-tengah bangsanya yang berbuat jahat, bahkan ayah dan kakeknya
sendiri jahat, Yosia tidak ikut-ikut berbuat dosa. Dijelaskan pula ia tidak menyimpang
ke kanan atau ke kiri. Ia seorang yang taat dalam melakukan perintah Tuhan. Dalam
ayat selanjutnya dikisahkan bahwa ia bukan hanya mengusahakan pembaruan
ibadah tetapi juga melakukan pentahiran bangsanya dengan cara memperbaiki
rumah Tuhan yang sudah terbengkalai sekian lama.  Sebuah tindakan yang patut
diteladani dan dilakukan oleh siapapun pada zaman sekarang.
Melakukan apa yang benar tidak dibatasi oleh usia maupun status. Siapapun bisa
melakukan apa yang benar. Ciri orang ini adalah keberanian untuk bertindak dan tidak
dipengaruhi situasi maupun kondisi di sekitarnya. Jika setiap pribadi bersikap seperti
Yosia bisa dipastikan akan berdampak positif bagi lingkungannya. Tidak terkecuali
jika sikap ini menjadi budaya di kampus tercinta Universitas Kristen Maranatha maka
pembangunan manusia seutuhnya bisa terwujud dan hasilnya akan dinikmati setiap
pribadi maupun lembaga.(RZA)
Refleksi:
Milikilah keberanian dalam menegakkan kebenaran di setiap aspek hidup ini.