SETIA: KRITERIA (MEMILIH) PEMIMPIN

“Dan aku akan mengangkat bagiKu seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hatiKu dan jiwaKu, dan Aku akan membangun baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi.” (1 Samuel 2:35)

 

Salah satu kriteria yang sering digunakan dalam memilih pemimpin adalah sifat SETIA. Selain kecakapan atau keterampilan, seorang pemimpin haruslah dapat dipercaya, yang berarti telah menunjukkan kesetiaan dalam melakukan berbagai tugas. Dalam bahasa Inggris digunakan kata faithful untuk kata setia. Kisah tentang anak-anak dari Imam Eli di Kitab 1 Samuel 2 diperbandingkan dengan kisah nabi Samuel (yang ketika itu masih muda belia). Dikisahkan bahwa anak-anak Imam Eli. Sebagai imam pengganti ayahnya, mereka telah melakukan hal-hal yang tidak pantas, bahkan dikategorikan sebagai tindakan kejahatan yang menghina kekudusan Allah. Mereka memandang rendah korban yang seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan, dengan memakan bagian terbaik dari daging korban persembahan. Mereka bahkan membiarkan tindakan kekerasan kepada orang-orang yang memberikan persembahan. Kejahatan lain yang mereka lakukan adalah melakukan dosa seksual dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan. Akibatnya Tuhan mencabut segala perjanjianNya dengan Imam Eli, dengan menyerahkan tugas-tugas keimaman kepada orang lain.

Sementara itu Samuel yang muda semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN mapun di hadapan manusia. Ibu Samuel telah mempersembahkan Samuel kepada Tuhan sejak kecil untuk menjadi pelayan Tuhan.. Karena kesetiaanya, dan karena ketidaksetiaan anak-anak dari Imam Eli, maka tugas-tugas keimaman dipercayakan kepada Samuel. Kelak Samuel akan menjadi seorang imam kepercayaan Allah yang mendapat tugas-tugas yang sangat signifikan dalam perjalanan hidup bangsa pilihan TUHAN. Samuel diplih menjadi pemimpin bagi bangsa Israel karena kesetiaannya dan karena kesetiaan orang tuanya kepada Allah. Setia berarti menghormati Allah dan kekudusanNya. Setia berarti tidak mengikuti keinginan sendiri dan melupakan tanggung-jawab utamanya. Setia berarti mengutamakan kepercayaan kepada Allah dan bukan kepada diri sendiri. Setia juga berarti menunjukkan kesediaan untuk berubah dan memperbaiki diri dari kesalahan, mengakui kelemahan, dan mau mengembangkan diri demi ketaatan kepada perintah Allah. (ROR)

 

Refleksi : Apakah kita sudah menyatakan kesetiaan kepada Allah?