MEMENUHI KUALIFIKASI

 

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus”

(Filipi 3:8)

 

Mata penulis tertuju pada pojok kolom sebuah surat kabar yang dibaca beberapa hari lalu. Kolom lowongan kerja menjadi pilihan tepat bagi mereka yang sedang mencari peluang kerja. Dalam kolom lowongan kerja ada banyak kualifikasi yang dicari oleh perusahaan – perusahaan. Tak jarang, mereka juga mencantumkan sejumlah kualifikasi yang dibutuhkan. Minimal lulusan S1 dengan IPK yang diingnkan, mampu berbahasa inggris, memiliki pengalaman di bidangnya minimal 2 tahun, mampu mengoperasikan komputer, mampu bekerja dalam team, bahkan mampu bekerja dengan sistem target. Kita mungkin memenuhi semua kualifikasi tersebut  dan bermodalkan hal itu, kita berpikir bahwa pasti kita akan memiliki karir yang bagus dalam pekerjaan kita.

Renungan hari ini mengajak kita belajar dari pribadi  Paulus. Rasul Paulus memiliki kualifikasi yang luar biasa dan patut dibanggakan pada zamannya. Dalam Filipi 3: 5-6; ia menunjukkan segudang kualifikasi dirinya “aku disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” Bahkan Paulus adalah jobolan terbaik di bawah bimbingan Gamaliel. Kelebihan dan kualifikasi Paulus ternyata bukanlah jaminan kebahagiaan Paulus. Ia menganggap semua kemegahannya adalah sampah setelah ia mengenal Kristus. Baginya, mengenal Kristus lebih mulia dari semua kualifikasi yang dimilikinya.

Demikian juga dengan kehidupan kita. Berbagai kualifikasi dan prestasi yang luar biasa bisa kita miliki dan kita bangga terhadapnya. Namun hal terpenting yang harus kita ingat adalah bahwa prestasi sekolah yang hebat dan prestasi kerja yang hebat di masa lalu, bukanlah jaminan untuk mendapatkan segala yang kita inginkan di masa depan. Masa depan penuh dengan misteri dan hal-hal yang tak terduga. Sehebat apapun masa lalu kita, tak ada satupun orang yang bisa memprediksi masa depannya. Keberhasilan yang kita inginkan di masa depan tergantung pada motivasi dan penyerahan diri kita kepad Tuhan.(YG)

 

Refleksi :

Semua yang kita miliki semata-mata karena anugerah Tuhan bukan karena kehebatan kita.