DALAM NAUNGAN SAYAP-MU

“ Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama-lamanya, biarlah aku berlindung dalan naungan sayap-Mu!”

(Mazmur 61:5)

 

Kitab Mazmur berimpah dengan kekayaan luapan devosi. Kitab Mazmue melukiskan pencarian hati yang sungguh mendalam akan persekutuan ilahi, hubungan yang paling penting dalam kehidupan kita. Bentuk hubungan persekutuan sejati yang digambarkan dalam nyanyian-nyanyian ini, suatu hubungan yang sangat dirindukan oleh orang-orang percaya, tidak dapat diartikan hanya sekadar sebagai suatu ikatan yang mengikat kita dengan Sang Pencipta atau iman kita kepada-Nya. Persekutuan yang sejati dapat terwujud ketika orang percaya memiliki pengetahuan yang jelas tentang Allah dan jaminan yang pasti bahwa Allah mengenalnya secara pribadi.

Titik tlaknya ada pada keyakinan akan persatuan dengan Allah. Sebuah persekutuan yang indah. Persatuan itu tidak memiliki paralelnya di sepanjang hidup kita, Allah telah memberi kita hubungan erat yang lain untuk menolong kita mengartikan persekutuan dengan Dia. Ubungan-hubungan antarmanusia yang intim memang sangat menolong, tetapi semua hanyalah gambaran Allah, dan hubungan yang dikenal oleh orang kudus dalam PL ketika mereka “berjalan dengan Allah.” Tidak seorangpun manusia dapat tinggal dengan kita secara penuh seperti Allah.

Bagi bangsa Israel, kemah Tuhan adalah lambang kehadiran Allah secara harafiah dan nyata. Maka ketika pemazmur mengatakan menumpang di dalam kemah-Mu menunjukkan bahwa hubungan yang dekat dengan Allah merupakan puncak pengertian tentang Dia. Meskipun pada hari ini sudah tidak adalah lagi kemah itu secara fisik, tetapi Allah telah memilih suatu tempat tinggal yang lebih spesifik yakni hati kita. Hidup kita menjadi tempat tinggal Allah, perbuatan kita menjadi lonceng kehadirannya, dan pengalaman hidup kita merupakan wujud naungan sayap-Nya. Allah berdiam di dalam kita.

Semakin erat kita bersekutu dengan Allah maka semakin kaya pengalaman hidup kita. Akhirnya hal tersebut akan menunjukan semakin nyatanya naungan sayap Allah bagi kita. Spektakuler bukan? (AL)

 

Refleksi :

Tidak ada peristiwa paling indah di dunia ini, selain Allah rela berdiam dalam diri kita.