BERANI KARENA IMAN

Karena kami mempunyai pengharapan  yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian,  (2 Korintus 3:12)

 

Dalam perjalanan hidup Jenderal Sun Tzu, dikisahkan bahwa strategi perang untuk mencapai kemenangan itu dapat berubah detik demi detik, demi mengimbangi atau mengantisipasi perubahan strategi musuh. Strategi ini berpijak pada dasar pemikiran bahwa cara terbaik untuk menang perang adalah dengan menguasai kemampuan membaca jalan pikiran ahli strategi musuh. Barangsiapa mengetahui jalan pikiran musuh dan mengetahui titik-titik kelemahannya, dipastikan dia dapat memenangkan adu strategi tersebut. Namun setiap strategi pasti mengandung risiko. Strategi perang Sun Tzu menegaskan adanya prinsip mendasar yaitu, “Kemenangan besar hanya dapat dilakukan orang yang berani ambil risiko besar”.

Paulus menjadi orang yang berani menerobos dinding tradisi, batas-batas budaya dan negara untuk memberitakan Injil, walaupun dia harus mengalami banyak penderitaan dan penganiayaan, ancaman kematian dan keprihatinan lainnya. Dia keluar dari negerinya bahkan hingga benua Eropa tepatnya ke negeri Roma, Athena, Turki, dan Spanyol sekarang ini. Paulus dengan berani mengatakan bahwa bukti kemampuan mereka bukan berada di atas helai kertas yang mudah hancur remuk, tetapi warga jemaat yang telah menerima Kristus, bertobat adalah bukti otentik dari pekerjaan Paulus tersebut. Jemaat adalah surat pujian yang paling otentik. Bagi Paulus jauh lebih penting menjadi pemberita Injil Kristus untuk mengungkapkan rahasia kasih Allah di dalam Kristus kepada semua manusia.

Salah satu ciri adanya pekerjaan Roh Kudus di dalam diri seorang percaya adalah munculnya keberanian yang tidak biasa, yaitu keberanian untuk mengikuti kehendak Allah walaupun harus menentang pendapat umum dan harus menanggung risiko. Apakah kita telah meniru para pendahulu kita dalam iman yang telah mempertontonkan iman mereka melalui keberanian dalam menghadapi risiko? Saat kita hendak menjalankan Amanat Agung, apakah kita membiarkan ketakutan memandu langkah kita? Apakah kita berani melakukan terobosan dengan menentang pendapat umum demi mewujudkan ketaatan kita kepada kehendak Allah? Tentu saja adanya keberanian yang dikobarkan oleh dorongan Roh Kudus tidak berarti bahwa kita boleh bertindak bodoh! Tuhan Yesus mengatakan, “hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (RCM)

 

Refleksi : Kasih Allah di dalam Yesus yang begitu besar dan mulia menjadi inti keberanian agar semakin banyak orang mengenal kasih itu.