Fokus Kepada Kasih Karunia-Nya

“ Ketika Tuhan melihat, bawa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah Kandungannya, …” (Kejadian 29:31 )

Mungkin sebagian besar orang merasa Lea adalah seorang yang menipu dirinya sendiri dan memilih untuk mengikuti rencana jahat ayahnya. Lea merasa tertindas atau diperlakukan tidak adil, dia tidak mendapatkan cinta dari suaminya. Tapi kita tidak dapat berfikir hanya sampai pada titik ini, mungkin saja dia melakukan hal itu karena hanya taat kepada Laban ayahnya. Tidak ada yang bisa menafsirkan secara terperinci apa motivasi Lea mengikuti rencana ayahnya, Laban. Tapi dari kisah sedih Lea, Tuhan memberikan harapan dan membuka kandungannya serta dapat melahirkan enam anak. Dari keenam anaknya lahirlah Yehuda yang berarti bersyukur. Dari keturunan Yehuda maka lahirlah Yesus Kristus.

Menghadapi tantangan hidup ini kita bisa belajar dari Lea, hidup dalam situasi sulit dan dapat bertahan. Sama seperti Lea, kita adalah orang berdosa yang tinggal dalam dunia yang berdosa. Kita adalah orang yang terluka oleh keterasingan dari satu sama lain dan dari diri kita sendiri. Setiap orang berjuang untuk mencapai kepuasan tetapi selalu berujung pada ketidak puasan. Tidak cukup untuk dicintai, tidak cukup dipedulikan, tidak cukup dihormati, dan tidak cukup dihargai. Mungkin hampir memuaskan tapi tidak pernah seperti yang kita inginkan.

Dari sikap Lea kita dapat melihat dua respon

  1. Berfokus pada apa yang tidak dimiliki dan menjadi sedih
  2. Berfokus pada apa yang kita miliki dan menyadari semuanya karena kasih karunia-Nya, maka ada sukacita.

“Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya” (Mazmur 18:31).

Pilihan ada di tangan kita ketika mau hidup bersama Tuhan, maka seharusnya fokus kita adalah apa yang Tuhan berikan dan merasa cukup tiap harinya.(RDS)

Refleksi :

Tetap yakin dan tetap fokus bahwa semua karna kasih karunia-Nya.