BERANI MENGHADAPI PENGAJAR YANG SESAT (2 Timotius 2 : 14-22)

“ Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni”

(2 Timotius 2 :22)

 

Di era globalisasi ini, gaya hidup dan tampilan dilakukan dengan usaha untuk dapat tampil sesuai atau mengikuti trend yang sedang berkembang, walau kadang trend itu belum tentu sesuai atau tepat dengan prinsip hidup dan kepribadian kita. Tuntutan lingkungan sekitar bukanlah hal yang mudah untuk ditolak, namun sebagai anak-anak yang mengenal Tuhan tentunya trend tersebut harus dapat dipilah dengan bijak dan pintar, apa yang baik dan apa yang tidak baik. Bahkan kita harus berani untuk tampil beda dengan melawan atau bersebrangan dengan tuntutan tersebut bila dirasa itu tidak sesuai dengan kita. Keberanian tampil beda bukanlah sekedar untuk mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar, namun lebih kepada kesadaran bahwa itu tidak sesuai dengan prinsip hidup dan kepribadian kita, walau kita akan dianggap bahwa kita ketinggalan jaman atau kurang gaul.

Dalam bacaan hari ini, kita dipanggil untuk menasehati orang-orang disekitar kita, bagaimana menghadapi pengajar yang sesat. Kita ditugaskan untuk mengingatkan, dan dititipkan untuk menyampaikan pesan kepada mereka agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah akan mengacaukan orang yang mendengarnya. Kita harus menyampaikannya dengan kesungguhan kita dihadapan Allah, untuk itu kita harus terlebih dulu mengusahakan diri kita supaya kita layak dihadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran, menghindari omongan yang kosong dan tak suci yang hanya menambah kefasikan.

Sebagai warga Universitas Kristen Maranatha, yang mayoritas anak muda dan melayani orang muda,  kita diberi kemampuan untuk berani menghadapi pengajar yang sesat, karena (19): dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah ”Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” dan ”setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan”. Bagaimana dengan kita? Siap dan beranikah? Sebagai orang muda, atau yang senantiasa mengahadapi orang muda, kita harus menjauhi nafsu orang muda, hindari omongan yang kosong dan tak suci agar tidak menambah kefasikan. (AG)

 

Refleksi : layakkanlah diri kita terlebih dulu.