MAKSUD TUHAN ADALAH UNTUK KEBAIKAN YANG LAIN

“…Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”

(Matius 20:26b-27)

 

Pemilihan kepemimpinan di Indonesia selalu menjadi suatu ajang “merebut hati pemilih” dengan mengorbankan harta kekayaan. Bahkan kita sering mendengar ada orang yang menjadi stress karena tidak terpilih menjadi pemimpin karena harta kekayaannya habis ketika berkampanye. Peristiwa semacam ini bisa terjadi, karena image menjadi pemimpin di negara akan mendapatkan kekayaan harta yang melimpah. Tidaklah aneh bila kita juga memiliki kesan bahwa menjadi pemimpin itu enak, dari segi gaji lebih besar, dan dari segi status sosial lebih bisa dibanggakan.

Tapi berbeda dengan kepemimpinan dalam Tuhan. Alkitab mencatat banyak pemimpin, tetapi kehidupan mereka tidaklah menyenangkan seperti yang kita bayangkan. Sebagai contoh, Musa yang dipanggil menjadi pemimpin. Kalau kita simak di Alkitab, banyak masalah yang dihadapi Musa. Banyak pengorbanan dan penderitaan yang dia alami. Pada waktu dia mau tutup usia, bahkan Musa tidak diperbolehkan oleh Tuhan untuk masuk ke tanah perjanjian, hanya bisa melihat dari jauh. Seperti tujuan dari kepemimpinannya tidak berhasil dia capai.

Hal ini membuat kita bertanya, kenapa mau jadi pemimpin?

Tuhan Yesus telah memberikan jawabannya: “barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Dalam hal ini Tuhan Yesus menekankan, jika kita menjadi pemimpin, hendaklah apa yang kita lakukan adalah untuk kebaikan orang lain. Perubahan yang terjadi adalah bagaimana orang lain mengecap buah dari kepemimpinan kita. Buah dari kepemimpinan kita mungkin bisa kita rasakan langsung atau mungkin kita hanya dapat merasakannya nanti setelah ada pergantian kepemimpinan.

Ketika Musa menjadi pemimpin, bangsa Israel banyak mengeluh. Tapi buah dari kepemimpinannyalah yang membawa bangsa Israel memasuki tanah perjanjian. Kebaikan untuk bangsa Israel baru dirasakan setelah Musa wafat.

Dengan demikian, dituntut kerelaan kita untuk berkorban. Apa yang kita lakukan, Tuhan akan membawa kebaikan untuk masa depan kita dan orang lain. (AS)

 

Refleksi :

Apa buah kepemimpinan kita bagi orang lain?