TIDAK MENYADARI ADANYA BLIND SPOT

Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. (Filipi 1:6)

Sesudah kordinator buku renungan Pelita Maranatha mengirimkan notulen rapat yang memberitahukan tema edisi Pelita Maranatha ini, saya tunggu selama beberapa minggu untuk informasi tema dan tanggal yang ditentukan sebagai tanggung jawab saya. Saya terus memperhatikan notulen rapat yang menyebutkan bahwa para penulis akan diberitahu tema dan tanggal masing-masing melalui e-mail atau sms. Saya tunggu, tunggu, dan tunggu hingga akhirnya saya menerima e-mail lagi beberapa minggu kemudian untuk mengingatkan deadline pengiriman penulisan renungan. Pada saat itu, baru saya menanyakan tema dan tanggal yang menjadi bagian tugas saya. Jawaban langsung dikirimkan kepada saya. Tahu-tahu informasi itu sudah ada di notulen rapat. Satu topik yang diberikan kepada saya adalah, ‘Menyadari Blind Spot sebagai Pemimpin.’ Saya tertawa dalam hati. Saya sendiri tidak menyadari selama beberapa waktu itu bahwa topik saya adalah menyadari blind spot. Saya tidak membaca dengan seksama semua informasi yang telah disampaikan melalui e-mail sebelum itu. Saya menjadi sadar bahwa sebelum itu saya tidak menyadari bahwa saya memiliki blind spot, yaitu untuk menyadari blind spot-ku sendiri. Melalui hal ini, saya kemudian sadar berapa sering saya tidak baca informasi di WhatsApp atau Line dengan seksama karena kesibukan saya dalam berbagai tugas sebagai dosen dan pelayanan. Sehingga menimbulkan kesalahpahaman atau membuat sang pengirim pesan mengulangi informasi yang telah disampaikannya.

Ayat ini sungguh adalah ayat yang indah untuk mendoakan orang lain dengan ucapan syukur. Mendoakan saudara seiman, termasuk pemimpin kita dengan ucapan syukur, dalam kasih, dan dengan sukacita. Bukan dengan sikap penghakiman. Ayat 3 menunjukkan kebiasaan rasul Paulus mengucap syukur atas saudara-saudara seiman dan mendoakan mereka dengan sukacita (ayat 4) dengan keyakinan bahwa Tuhan akan meneruskan pekerjaan yang baik, dalam diri mereka dan pelayanan mereka (ayat 5, 6). Walaupun sadar bahwa mereka tidak sempurna dan masih memiliki blind spot, dia mendoakan dengan ucapan syukur, sukacita, dan keyakinan.

Kadang-kadang kita atau pemimpin kita, tidak langsung sadar akan blind spot tertentu, seperti saya ceritakan di atas. Tetapi kita tetap bisa merangkul mereka dan mendoakan mereka dengan ucapan syukur. (CG)

Refleksi:  Doakan pemimpin kita dengan ucapan syukur, kasih, sukacita dan keyakinan bahwa Tuhan bekerja terhadap blind spot mereka.