SIAP MENERIMA BERKAT TUHAN MELALUI KETAATAN

“Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pergilah . . . ke negeri yang akan Kutunjukkan . . . ; Aku akan memberkati engkau . . .Lalu pergilah Abram” (Kejadian 12:1-4)

 Kita sedang hidup di zaman di mana keegoisan manusia muncul. Tidak heran, karena Alkitab sudah mempersiapkan kita bahwa “pada hari-hari terakhir” manusia akan hidup semakin “mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah” (2 Timotius 3:1-4). Apakah seperti itu yang terlihat di sekitar kita? Abram mengingatkan kita untuk tidak mencintai diri sendiri , tidak memberontak, sebaliknya hidup “menuruti Allah”.

Dalam renungan sebelumnya dijelaskan mengenai ketaatan Yesus sebagai motivasi-Nya dalam kasih untuk menghadapi pengorbanan-Nya di kayu salib. Semua itu membawa berkat terbesar bagi kita.

Hari ini kita dapat memperhatikan ketaatan Abram dan hasilnya “olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12:3).  Ketaatan Abram adalah persiapan Abram menerima berkat Tuhan. Zaman ini kita terbiasa mendengar kata “berkat” dan berdoa agar diberkati. Ini tidak salah, kalau dalam konteks keseimbangan kebenaran Firman Tuhan. Tuhan juga berjanji kepada Abram, “Aku akan . . . memberkati engkau serta membuat namamu masyhur” (Kejadian 12:2) dan “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau” (Kejadian 12:3). Tetapi jangan lupa bahwa ada ayat sebelumnya yang memerintahkan Abram, “Pergilah . . . “, kemudian Abram setelah menerima perintah dan berkat Tuhan, “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya” (Kejadian 12:4).

Ingat bahwa saat Abram melakukan perjalanannya belum ada transportasi seperti saat ini. Perjalanannya sukar dan lama serta dia sudah berumur 75 tahun! Dari situ kita belajar, ketaatan – sebagai persiapan menerima berkat Tuhan – tidak mengenal usia. (CG)

Refleksi:  Jangan hanya berdoa ‘berkatilah aku’. Lihatlah dalam hal apa anda sudah taat kepada Tuhan. Pasti berkat Tuhan mengikuti orang yang hidupnya taat.