PELAYAN-PEMIMPIN

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45)

Dalam berbagai kesempatan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengisahkan bagaimana dia melupakan impian menjadi pengusaha kondang. Adalah nasihat ayahanda yang membuat Ahok memutar haluan dan mulai meniti karir politik sebagai anggota DPRD hingga saat ini beroleh amanat menjadi Gubernur DKI Jakarta. “Jika kamu memiliki uang Rp. 1 Milyar, kamu hanya bisa membantu 2.000 orang. Bagaimana kamu akan membantu 9.000 orang penduduk desa? Kamu tidak akan punya uang sebanyak itu untuk membantu orang setiap bulan. Tetapi jika kamu menjadi pejabat pemerintah, kamu bisa membantu satu desa bahkan seluruh penduduk pulau!” Demikian wejangan ayahanda Ahok.

Setengah abad lalu Robert K. Greenleaf memperkenalkan istilah pelayan-pemimpin (servant-leader) yang berarti seorang pelayan –abdi, hamba–  yang dari relung hatinya tergerak untuk melayani. Seorang yang lebih dulu ingin melayani, kemudian pilihan sadar membawanya kepada keinginan untuk memimpin. Orientasi kepemimpinan pelayan adalah memenuhi kebutuhan utama orang yang dipimpin sehingga mereka menjadi lebih sehat, lebih bijak, lebih bebas, lebih mandiri, dan tergerak menjadi pelayan.

Jauh sebelumnya, Yesus memberikan konsep dan teladan tentang keagungan di dalam diri dan pengajaran-Nya. Dengan ketaatan untuk menggenapkan kehendak Sang Bapa, Dia datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Dia menanggung penyakit kita dan memikul kesengsaraan kita. Dia mati untuk kita. Dengan pelayanan-Nya yang penuh pengorbanan, Yesus mengubah hidup kita dan memimpin kita kepada keselamatan.

Tuhan telah memberi kita pola pikir dan teladan pelayan-pemimpin dan meminta kita menaruh dan melakukannya dalam keseharian sebagai manifestasi pelayanan kita kepada-Nya. (JS)

Refleksi:     Bagaimana Anda menjadi pelayan-pemimpin di rumah, kampus, tempat kerja, dan masyarakat?