Tongkat Estafet

“Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu.” (Yosua 1:1)

 Seorang bapak tua memanggil anak laki-lakinya, dalam pertemuan itu ia membawa sekantong biji-bjian. Bapak tua berkata kepada anak lakinya: anakku, umurku sudah tua dan aku tidak sekuat dulu lagi aku memiliki harapan besar kepadamu, sudah lama aku menyimpan kantong biji-bijian ini dan hari ini aku mau menyerahkan kepadamu untuk dikembangkan. Seorang bapak yang mempunyai harapan besar agar anak laki-lakinya meneruskan pekerjaan yang sudah lama digelutinya yaitu menjadi petani yang berhasil. Dia bukan hanya menyiapkan sekantung biji-bijian tetapi juga menyiapkan seorang penerus yang bisa dipercaya.

 

Nas hari ini dijelaskan bagaimana Musa mempersiapkan Yosua menjadi pengganti dirinya. Tentunya Tuhan lebih mengetahui keadaan Musa yang berusia 120 tahun dan tidak memungkinkan untuk melaksanakan tugas selanjutnya. Tuhan berfirman kepada Yosua bahwa Tuhan akan berada di depan dan menyertainya sehingga Yosua akan dapat memimpin mereka untuk menyeberangi sungai Yordan dan dapat mengalahkan lawannya. Yosua melaksanakan perintah Tuhan dengan iman percaya akan janji Tuhan bahwa setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu dan Tuhan Allahmu menyertai engkau, kemana pun engkau pergi.

 

Tongkat estafet adalah sebuah hal penting yang seharusnya dipersiapkan dengan baik yaitu dengan memberikan kepercayaan kepada generasi berikutnya untuk memimpin. Pemimpin yang baik sudah seharusnya menyadari ada batasan waktu dalam masa kepemimpinan seseorang sehingga sangatlah penting sebuah regenerasi. Universitas Kristen Maranatha sebagai organisasi yang baik sudah seharusnya menyiapkan pemimpin-pemimpin yang cakap dan takut akan Tuhan. Tidak ada hal sia-sia jika regenerasi dilakukan setiap saat. (RZA)

 

 

Refleksi : Menyiapkan seorang pemimpin yang cakap dan takut akan Tuhan adalah tugas seorang pemimpin.