HIDUP YANG MENGAMPUNI (Matius 18:21-35)

Senin, 25 Agustus 2014

HIDUP YANG MENGAMPUNI (Matius 18:21-35)

“Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali,  melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18 : 22)

Dalam pengalaman hidup sehari-hari mungkin kita berpikir dengan memberi  maaf atas kesalahan orang lain berarti kita telah memberi “sesuatu” kepada orang lain atau memberi hutang budi kepada orang lain. “Pengampunan” adalah sebutan bagi orang yang selalu sadar bahwa dirinya memerlukan pengampunan, yang sekaligus akan memampukan seseorang untuk mengampuni orang lain. Pengampunan bukan berarti mengabaikan kesalahan atau membiarkan seseorang tidak bertanggung jawab atas kesalahannya. Pengampunan menghapuskan catatan kesalahan masa lalu dan memulainya dengan lembaran baru. Kalau kita tidak mau mengampuni, alternatifnya adalah marah pada orang yang telah menyakiti kita. Orang yang marah akan semakin terobsesi untuk “membalas dendam”. Kemarahan, bila tidak ditanggulangi dengan benar, akan berkembang menjadi kepahitan. Sikap yang tidak sehat ini akan menjadi suatu pengaruh yang mengendalikan kehidupan seseorang, dan secara ilmiah terbukti sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan yang serius. Sebaliknya bila orang mau mengampuni, bisa jadi hal itu sangat sulit.

Ada dua sisi pengampunan yang perlu diketahui oleh setiap orang. Selain mengampuni orang yang bersalah, seseorang juga harus meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya kepada orang lain. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui tindakan, perkataan atau pikiran yang salah. Namun, kepercayaan yang terbina karenanya akan merupakan upah yang sepadan dari tindakan itu. Orang–orang yang bersikap congkak, yang merasa dirinya tidak memerlukan pengampunan, cenderung lebih kritis dan menghakimi orang lain secara lebih keras. Untuk mempertahankan harga diri setinggi – tingginya, mereka berusaha menemukan kesalahan untuk merendahkan orang lain.

Hidup ini akan sangat berarti dan indah bila ada maaf di antara kita, karena: terkadang mata salah melihat, mulut salah berucap, kaki salah melangkah, hati salah menduga. Kesemuanya adalah pelajaran hidup untuk mencapai kedamaian dalam hati. (RPA)

Refleksi :Jadilah anak Tuhan yang “Pengampun”!