BESAR KARENA SIKAP YANG BENAR

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Matius 20:26-27)

 

Dunia kepemimpinan erat kaitnya dengan kekuasaan.  Menurut teori kekuasaan Kurt Lewin (1890-1947) menyatakan bahwa kekuasaan adalah kemampuan potensial dari seseorang untuk mempengaruhi yang lain dalam sistem yang ada. Pertanyaannya untuk tujuan apa kekuasaan tersebut digunakan untuk mempengaruhi tersebut? Meskipun kekuasaan pada hakikatnya sama, namun tujuan yang berbeda menentukan apakah kekuasaan itu telah digunakan dengan benar atau belum.

Ayat di atas adalah jawaban Yesus pada permintaan ibu dari anak-anak Zebedeus yang menginginkan, ketika Yesus nanti memimpin kerajaanNya, anak-anaknya akan duduk di sebelah kiri dan kanannya. Ini adalah sebuah gambaran yang lumrah, keinginan seorang ibu agar anak-anaknya mendapatkan kehidupan yang mulia. Pengertian posisi di sebelah kiri dan kanan pada masa itu, bahkan dalam pengertian dunia modern saat ini sama, yakni sebuah posisi penting yang mewakili kekuasaan yang sangat besar. Namun sayang ibu ini kurang memahami apa makna kepemimpinan di dalam pemikiran Yesus Kristus. Sehingga jawaban yang diberikan Yesus justru di luar dugaan yakni, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.”Sikap kepemimpinan yang dikehendaki oleh Yesus yang sudah diteladankan ternyata adalah sikap melayani.

Jika dilihat sekilas kepemimpinan yang melayani ini nampaknya kurang menarik atau malah terkesan rendahan, “Masak bos menjadi pelayan?”

Namun ternyata dalam pemikiran dunia bisnis modern perihal melayani justru telah diterapkan secara maksimal dalam pendekatan total costumer service, yakni sebuah model pelayanan pelanggan yang mengutamakan kepuasan yang maksimal. Semakin baik sebuah perusahaan mengaplikasikan layanan ini, maka semakin besar kepercayaan konsumen pada perusahaan tersebut, yang artinya akan menghasilkan sebuah transaksi bisnis yang jauh lebih besar lagi yang diakibatkan secara langsung dari kepercayaan tersebut. Sehingga tidak salah jika mengukur dampak sebuah proses kepemimpinan, dari sinilah kekuatan kepemimpinan yang sesungguhnya berada. (AT)

Refleksi: Sudah siapkah Anda menjadi pemimpin besar? Sudah siapkah Anda melayani orang lain?