MASIHKAH SEPERTI YANG DULU?

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (I Korintus 9:27)

 Musa adalah figur penting dalam tradisi keagamaan Yahudi, juga dalam kekristenan. Ia adalah seorang pahlawan iman yang berani melawan kekuasaan Firaun yang sangat besar, kemudian memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir melewati sebuah mujizat dahsyat sepanjang sejarah suci bangsa Israel terbelahnya Laut Merah, dan menerima 10 perintah Allah yang menjadi landasan hukum bagi bangsa Israel yang baru berdiri. Tidak salah jika ia menjadi figur sentral tidak hanya agama Yahudi, Kristen, Islam atau agama-agama turunan semitik lainnya. Namun jika kita melihat kisah di akhir hidupnya justru terjadi sebuah peristiwa yang sangat tragis, bahwa ia tidak diijinkan oleh Tuhan untuk masuk ke dalam Tanah Perjanjian yang menjadi tujuan perjalanannya bersama bangsa Israel sejak awal.

Ayat di atas, menjelaskan hal yang sangat menarik dari kisah kehidupan Rasul Paulus. Dalam kaitan dengan garis akhir kehidupannya, ia ternyata menyampaikan sebuah kekuatiran yang kemungkinan mirip dialami oleh Musa. Yakni justru ia menjadi bagian yang ditolak dari perjuangannya sendiri. Kata ditolak berasal dari bahasa asli adokimos  yang artinya diskualifikasi atau gagal dalam sebuah ujian atau tes. Untuk itulah dikatakan, “…aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya…”

Seringkali dalam kepemimpinan ini, khususnya di akhir perjalanan kita malah gagal untuk menjadikan diri kita tetap berjalan sesuai dengan tujuan awal. Kita ingat pada sejarah bangsa Indonesia ketika Presiden Suharto  akhirnya justru harus dilengserkan dengan menyandang predikat nama yang kurang baik, padahal sebelumnya ia memiliki kesempatan untuk turun secara elegan menjadi negarawan yang dihormati. Hal yang sama mungkin bisa terjadi dalam kehidupan kepemimpinan kita. Hal yang mesti harus dipahami selain dari pada tetap menjaga integritas kepemimpinan hingga akhir adalah seorang pemimpin harus tahu kapan ia harus berhenti. (AT)

 Refleksi: Masihkah Anda seperti yang dulu?