KETELADANAN

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalama kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (ITimotius 4:12)

Ada kalanya kita dipanggil untuk memimpin pada usia yang masih muda, dan sebagai seorang manusia, sering sekali kita merasa takut untuk menerima panggilan tersebut, apalagi jika orang-orang yang akan kita pimpin ternyata lebih senior dan lebih kaya akan pengalaman daripada kita. Tapi kita tidak pernah tahu kapan dan dimana Tuhan akan memanggil kita untuk memimpin. Kita juga tidak bisa memilih siapa dan bagaimana karakter orang-orang yang akan kita pimpin. Lantas haruskah kita takut dan menolak panggilan tersebut?

Besi menajamkan besi, begitu juga manusia menajamkan sesamanya.Tuhan menempatkan orang-orang dengan berbagai jenis latar belakang dan karakter untuk mengasah kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih utuh lagi. Lewat interaksi dan juga gesekan yang terjadi, kita akan belajar untuk melihat tidak hanya dari satu sudut pandang saja, tapi kita juga akan belajar untuk melihat dan memahami perspektif yang berbeda serta hal-hal yang melatarbelakangi terbentuknya perspektif tersebut.

Justru saat kita dipanggil untuk memimpin, di sanalah kita harus lebih banyak belajar dari rekan-rekan yang kita pimpin, belajar dari rekan-rekan yang sudah mengalami pahit getirnya kehidupan, belajar untuk membuat keputusan yang objektif dan pragmatis.Tidak hanya yang muda harus belajar dari yang lebih senior, tapi yang lebih seniorpun hendaknya rendah hati dan bersedia untuk belajar dari yang lebih muda.Pemimpin senior biasanya lebih berhati-hati dalam membuat keputusan, tapi cenderung konservatif, sedangkan pemimpin yang muda biasanya lebih kreatif dan inovatif, tapi ada kalanya tergesa-gesa dalam membuat keputusan.

Sebagai seorang hamba yang dipanggil untuk memimpin, kita harus belajar dan menunjukkan keteladanan kita tidak hanya dalam perkataan, tetapi juga dalam tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesuciaan.Kita harus belajar dari keteladanan yang telah Yesus contohkan bagi kita semua. (RL)

 Refleksi:

Keteladanan seperti apakah yang sudah kita berikan di tengah-tengah keluarga dan masyarakat?