EVALUASI DIRI BAGIAN DARI HIDUP

Rabu, 27 Agustus 2014 2014

EVALUASI DIRI BAGIAN DARI HIDUP (1 Korintus 3:10-17)

“Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya” (1 Korintus 3:10 b)

Sudah menjadi hal yang biasa bila kita membaca di media massa perihal perilaku para pemimpin bangsa yang akhir-akhir ini menunjukkan adanya kemerosotan moral, seperti korupsi, manipulasi, kekerasan dan sejenisnya. Pada hakekatnya pemimpin seharusnya menjadi panutan. Namun, itulah yang terjadi. Sungguh memprihatinkan, bukan?

Dalam hal ini bukan bermaksud membongkar kebobrokan, menghakimi atau mendiskreditkan siapapun. Namun, bagaimana agar kita tidak terseret pada hal-hal tersebut. Sikap dan tindakan yang tidak terpuji, lebih mengutamakan kepentingan pribadi, menggerogoti hampir di semua lini kehidupan. Untuk mengatasinya diperlukan pengingatan sehingga timbul kesadaran etika moralitas yang dapat memilah mana perbuatan yang baik dan buruk, mana yang mulia dilakukan, mana yang tidak pantas dilakukan.

Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menegur dan mengkritik jemaat di Korintus yang meskipun hidupnya penuh karunia illahi, tetapi masih melakukan sifat-sifat duniawi (1 Korintus 3). Kita juga melihat bagaimana kitab Injil mencatat Yesus memberikan evaluasi atas diri Petrus, Thomas, dan semua murid-Nya. Apabila di antara mereka ada yang kurang iman, Yesus jujur menilai bahwa mereka kurang iman bahkan jika ada yang masih lemah atau lainnya, Yesus tidak tanggung-tanggung mengevaluasi secara obyektif. Tak jarang Yesus menegur keras karena kebodohan-kebodohan para murid-Nya.

Bagaimana dengan kita sekarang? Bila kita mau menjadi baik entah itu sebagai pemimpin atau bawahan, dosen, mahasiswa atau karyawan harus mau menerima kritikan atau evaluasi bahkan mau mengevaluasi diri. Pembaharuan akan terjadi ketika ”sikap kritis” itu muncul. Dalam sejarah kekristenan, Martin Luther menjadi pembaharu Kristen karena ia bersikap kritis terhadap perkembangan yang ada. Lalu ia pun berani mengkritisi sampai pembaruan pun muncul.

Seringkali kita alami, kritik bukan sebuah proses evaluasi namun sarat dengan kepentingan ”bersifat politis” dan ”kapitalisme”, “menghalalkan segala cara”. Maka sesungguhnya evaluasi yang bersifat obyektif dapat menghindari tumbuh suburnya mental negatif. (RPA)

Refleksi :
Bersediakah kita menerima evaluasi demi kebaikan?