BELAJAR DARI KEPOLOSAN SEORANG ANAK

Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Markus 10:14-15)

 Natal merupakan momen yang paling dinantikan oleh baik orang dewasa maupun anak kecil.Masa-masa menjelang Natal merupakan masa persiapan bagi sebagian dari kita.Sebagian dari kita sibuk menyiapkan hadiah Natal, sebagian lagi sibuk menyiapkan hidangan malam Natal bagi keluarga, sedangkan anak-anak kita acapkali menanti-nantikan momen menghias pohon Natal.

Saya ingat saat saya kecil, Natal merupakan momen yang paling saya nanti-nantikan, bahkan jauh lebih saya nantikan dibanding perayaan ulang tahun saya sendiri. Selain memiliki kesempatan untuk menghiasi pohon Natal, saya juga menantikan hadiah Natal yang akan saya terima, menikmati hari-hari libur sekolah saya, dan juga menikmati perayaan-perayaan Natal di sekolah maupun gereja.

Saat saya mulai beranjak dewasa, Natal tidak lagi seindah sedia kala.Natal selalu diikuti dengan berbagai tanggung jawab.Kegiatan menghias pohon Natal pun menjadi beban tersendiri.Mengapa sikap kita dapat berubah sedemikian drastisnya?

Sebagai seorang manusia yang terus bertumbuh, kita akan terus mengalami pendewasaan.Ada kalanya karena himpitan tugas dan tanggung jawab dan juga berbagai macam rintangan dan hambatan yang kita alami dalam proses pendewasaan, kita tidak lagi memiliki hati yang murni dan polos seperti seorang anak kecil. Kita cenderung melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan, dan oleh sebab itu cenderung mengesampingkan hal-hal yang bagi kita merupakan bagian dari masa kecil.Hendaklah kita renungkan apakah kita sudah menyambut kedatangan Tuhan Yesus dengan hati yang riang layaknya seorang anak kecil? (RL)

 Refleksi:

Sudahkah kita menyambut-Nya dalam hidup kita?Sambutan seperti apakah yang sudah dan ingin kita berikan pada Yesus?