PEMIMPIN YANG SEBENARNYA

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. (Yohanes 10:11-12)

Ada yang mengatakan bahwa seorang pemimpin teruji ketika kesulitan datang. Jika baru bersenang-senang pada sebuah jabatan yang disandang, segala kata-katanya yang indah tidak membuktikan apa-apa. Sepertinya perkataan ini menarik untuk dicermati dari para pemimpin yang ada di sekeliling kita. Dalam batasan uji kompetensi dalam perusahaan terkait tingkat integritas seorang pemimpin adalah ketika ia berani mengambil keputusan yang benar, bahkan jika hal tersebut merugikan dirinya. Dan ia juga rela bekerja keras mengorbankan hal-hal yang berharga demi mencapai tujuan yang dikerjakannya.

Ayat di atas menjelaskan dua karakter gembala yang menjadi simbol kepemimpinan dalam kekristenan. Pertama adalah Gembala yang baik dan yang kedua Gembala upahan. Gembala upahan ini memiliki karakter yang tidak menyenangkan yakni, “…ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.” Sepertinya ia tidak terlalu memperdulikan domba-domba yang dijaganya jika dibandingkan dengan nyawanya. Sebaliknya Gembala yang baik dikatakan, “…memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Bagi Gembala yang baik Kepemimpinan sepertinya lebih berharga dari pada nyawanya sendiri. Namun jika dilihat sekilas penampilan keduanya tidak jauh berbeda bukan?

Sekarang bagaimana dengan diri kita? Terkadang memang tidak bisa disalahkan, misalnya keluhan sebagai berikut, “…Ah gaji kecil, tanggung jawab besar.” Sulit untuk membantah adanya institusi atau perusahaan yang memeras tenaga para pemimpinnya. Perusahaan sedemikian biasanya tidak pernah melahirkan pemimpin yang berintegritas sebab kesalahan mereka sendiri sebagai wadah tidak menyediakan sarana dan fasilitas yang baik bagi para pemimpinnya. Namun dari sudut pandang yang sebaliknya integritas biasanya lahir dari dalam, tidak harus dipengaruhi sepenuhnya dari apa yang di luar dirinya. Pemimpin hebat seharusnya memang tinggal atau bekerja di perusahaan yang hebat, atau pemimpin hebat di mana saja seharusnya tetap berusaha untuk tampil hebat.(AT)

Refleksi: Anda pemimpin upahan atau memang dilahirkan sebagai pemimpin yang hebat?