HIDUP DALAM KUASA DAN KEKUATAN ALLAH

Kamis, 28 Agustus 2014

HIDUP DALAM KUASA DAN KEKUATAN ALLAH

“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan dandi dalam kekuatan kuasaNya” (Efesus 6 :10)

Kelicikan dan penipuan serta menghalalkan segala cara bukanlah cara yang patut digunakan oleh kita dalam mencapai tujuan. Ada kecenderungan seseorang ketika menerima dan memulai mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan dilakukan dengan baik, tetapi berujung menjadi seolah-olah untuk mencari nama, menunjukkan kekuasaan atau untuk memperoleh kehormatan. Upaya menunjukkan kesuksesan untuk mendapatkan kehormatan dan pujian belaka.

Oleh sebab itu Rasul Paulus berkata: ”Hendaklah kamu kuat di dalam  Tuhan dan di dalam kekuatan kuasaNya”. Kita seharusnya berjuang dalam kekuatan kuasa Allah. Senjata perjuangan kita harus merupakan senjata rohani. Bukan berarti kita membuang semua ilmu untuk melakukan peran kita. Kita justru terpanggil untuk mengamalkan segenap ilmu yang kita peroleh bagi kesejahteraan bersama dengan menempatkannya di bawah terang Firman Allah. Bila kita diberi kepercayaan untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan, maka harus pula siap mempertanggungjawabkannya. Sebagai orang percaya, bila kita dibutuhkan hadir untuk turut serta dalam menyelesaikan kemelut yang terjadi di sekitar masyarakat kita. Peran yang harus kita jalankan adalah peduli, menggunakan etos kasih yang membebaskan demi kebenaran dan etos karsa dalam kebersamaan. Dengan demikian kita melakukan transformasi dalam tindakan etik yang membawa arah dan jalan baru bagi semua orang.

Alkitab menyaksikan bagaimana ketegasan Rasul Paulus. Paulus bermaksud mematahkan setiap siasat buruk dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Paulus siap sedia dengan tegas menghadapi segala bentuk kedurhakaan.

Sesuai dengan nasihatnya diharapkan kita dapat mencapai suatu kesempurnaan. Allah memerlukan orang-orang yang dapat bersikap rendah hati, sifat yang penuh kasih, yang tidak mementingkan diri sendiri atau selalu merasa diri benar. Mampu menjauhkan diri dari kebencian dan tidak memperkenankan orang yang diam-diam tetapi ingin membinasakan sesama manusia. Hanya di dalam Dia ada kekuatan yang sempurna.(RPA)

Refleksi :
Bila saat ini kita sadar ada banyak kekurangan dalam diri, belum terlambat untuk memperbaiki.