BANGUN DARI KELESUAN

“Lesu aku karena berseru seru, kerongkonganku kering, mataku nyeri karena mengharapkan Allahku” (Mazmur 69:4)

Menjadi lesu dapat terjadi karena berbagai peristiwa, seperti aktivitas yang terus menerus, interupsi demi interupsi, tuntutan tuntutan yang harus dipenuhi, agenda kegiatan yang bersifat rutinitas, kegagalan dan sebagainya yang terus menerus menghantam kehidupan kita. Semua itu dapat mendorong kita untuk berteriak sekeras kerasnya : “ Aku kalah dan mau menyerah saja!”

Kecenderungan demikian menunjukkan klimaks dari kelesuan seseorang yang mengarah pada kondisi membahayakan. Keputusan seperti mengaku kalah, bertekuk lutut pada keadaan menunjukkan rasa putus asa dan tidak memiliki semangat untuk bangkit lagi. Adalah wajar merasa lelah. Namun bila dipelihara dapat menjadi kesalahan besar, bagaikan seorang petugas yang bertanggung jawab menjaga pos keamanan kemudian meningggalkan posnya begitu saja, padahal situasi sedang genting.

Bentuk lain yang dapat membuat kita lesu adalah seperti yang dialami Daud, menjadi letih karena dikecam sehingga, “Lesu aku karena mengeluh setiap malam aku menggenangi tempat tidurku dengan air mata aku membanjiri ranjangku. Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.”(Mazmur 6:7,8). Hal lainnya bisa menimbulkan kelelahan dalam belajar, seperti dalam Pengkhotbah 12:12 “Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.” Dari pengalaman yang diuraikan di atas memperlihatkan bahwa kekuatan seseorang ada batasnya. Kelelahan dapat mengakibatkan keterpurukan. Semakin lama kelelahan menerpa, maka semakin banyak kita menghadapi bahaya. Keadaan lelah – lesu yang mengancam jiwa kita diibaratkan seperti tenggorokkan kering yang dapat mencekik harapan, impian, motivasi, optimisme dan gairah kita.

Dalam Yesaya 50: 4, dengan kata kata yang membesarkan hati, Yesaya yakin Tuhan dapat membaharui orang yang letih lesu. Allah akan menggantikan keletihan kita. Ambillah waktu untuk hening sejenak. Allah hanya meminta kita datang menghampiriNya dengan segenap pikiran dan hati, mendekat dan berbicara, mendengar suaraNya. Lakukanlah segera! “Ingatlah selalu akan Dia,…supaya kamu jangan menjadi lemah dan putus asa” (Ibrani 12:3). (RPA)

Refleksi:
Bangkitlah dari kelesuan yang dapat menjadikan kita putus asa dan terpuruk.