BERTUMBUH KE ARAH KRISTUS BERSAMA SESAMA KITA

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17)

Ada salah satu ungkapan yang paling saya ingat saat mengikuti Kelompok Tumbuh Bersama. Dikatakan bahwa “individualisme adalah bunuh diri rohani”. Ungkapan ini cukup ekstrim. Namun pada kenyataannya memang benar. Seseorang yang menutup diri dari hubungan sosial yang erat dengan sesamanya sebenarnya membunuh dirinya sendiri, karena artinya dia menolak dewasa. Jika kita melihatnya dari konteks hidup bersama, boleh kita katakan bahwa “bunuh diri massal” dari segi rohani terjadi apabila suatu komunitas tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan sesamanya. Banyak contoh nyata gereja-gereja yang terpuruk bahkan akhirnya mati ketika jemaatnya individualis, tidak hangat, dan tidak akrab baik di dalam jemaatnya sendiri maupun dengan lingkungan. Hal yang sama dapat terjadi di kampus jika kita tidak peduli satu sama lain.

Tidak dapat dipungkiri bahwa membuka diri terhadap orang lain berarti merelakan diri untuk rapuh. Ada kalanya terjadi pergesekan ketika kita dekat satu sama lain, karena kita semakin tahu apa yang kita sukai dari sesama kita dan apa yang tidak. Semakin dekat kita dengan sesama, ada keinginan agar orang lain sesuai dengan apa yang kita mau dan tidak ada perbedaan. Ibaratnya beberapa kelereng dimasukkan ke sebuah wadah yang lebar, ketika wadah itu kita persempit maka kemungkinan kelereng-kelereng itu saling bertubrukan akan semakin besar. Contohnya: tidak jarang Paulus dan Petrus bertentangan satu sama lain, misalnya dalam Galatia 2:11-14.

Sebagai manusia kita seringkali ingin menghindari ketidaknyamanan itu. Namun bukankah kerajaan Allah bicara soal keluarga? Untuk mendewasakan seseorang, Allah menggunakan keluarga maupun ‘keluarga’ untuk mendewasakan kita. Untuk menajamkan besi, pandai besi menggunakan besi yang lain. Sama seperti yang saat ini terjadi di Indonesia, Allah menggunakan semuanya untuk mendewasakan kita sebagai suatu bangsa. Maukah kita terus bertumbuh bersama sebagai keluarga? (II)

Refleksi:
Allah menggunakan sesama untuk mendewasakan kita. Tanpa mau mengikuti
proses pendewasaan itu, berarti kita menolak hidup sebagai anak Allah.