MELAYANI DENGAN HATI

melayani

“…Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara”
(Lukas 10 : 41b)

Teks diatas merupakan respon dari Tuhan Yesus terhadap Marta ketika ia sedang sibuk melayani. Marta merasa telah melakukan hal yang benar dalam hal melayani Tuhan Yesus yang saat itu bertamu bersama para murid-Nya. Marta merasa keberatan melayani seorang diri, sementara Maria saudaranya hanya duduk menemani Tuhan Yesus.

Pertanyaannya, apakah pelayanan yang Marta lakukan terhadap Yesus itu salah ? Tentu saja tidak ! sebab jika Marta juga seperti Maria, maka siapa yang akan melayani para tamu undangan dengan menghidangkan makanan dan minuman ? Dalam hal ini jelas Tuhan Yesus tidak mempersalahkan Marta. Yesus menegur sikap Marta dalam melayani, sebab Marta tidak melayani dengan hati yang tulus. Marta melakukan sebagai suatu kewajiban saja. Marta memang sibuk, tetapi kesibukannya itu hanya untuk mencari perhatian, popularitas dan pujian semata. Mungkin kita pernah membaca sebuah uangkapan yang bijak “the heart of service is serving by heart”. Artinya bahwa inti dari sebuah pelayanan adalah melayani dengan hati. Lebih tegas lagi, itu disebut pelayanan jika kita melakukannya dengan sepenuh hati, dengan semangat, dengan kesungguhan dan tidak mengeluh. Tuhan menciptakan manusia sedemikian rupa, sehingga apabila jiwanya mulai terbakar oleh semangat, maka kemustahilan akan lenyap. Semangat tersebut disebut Anthusiasm atau antusiasme, yang berasal dari bahasa Yunani, En dan Theos, artinya : “ada Tuhan di dalam.”

Thomas Alfa Edison dalam sejarah penemuannya melakukan hal yang mustahil. Bagaimana tidak? Dalam melakukan percobannya, Thomas mengalami ribuan kali kegagalan, akan tetapi dia terus melakukan dengan kesungguhan hati sampai berhasil dan karyanya dapat dinikmati hingga hari ini. Bola lampu telah berhasil mengubah dunia. Semangat dan pengorbanannya sungguh luar biasa. Thomas sempat berucap seperti ini “seandainya satu-satunya hal yang dapat kita wariskan kepada anak cucu kita adalah kualitas antusiasme, maka sesungguhnya kita telah mewariskan kepada mereka harta yang tak ternilai harganya!”

Apa yang Tuhan Yesus katakan kepada Marta, berlaku juga terhadap pelayanan kita di masyarakat, rumah, gereja maupun di Universitas Kristen Maranatha. Bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok kita saja tetapi juga untuk masyarakat umum. Maria memiliki sikap yang tepat, dia duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengar perkataan-Nya. (MW)

Refleksi :
Kita perlu melakukan tugas dan hal-hal yang penting dengan sepenuh hati, dengan semangat dan ketulusan hati kita.