MEMBERITAKAN TAHUN RAHMAT TUHAN

rahmat Tuhan

“ untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan
penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang
tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”
(Lukas 4:19).

Sebait puisi yang ditulis oleh Rieke Diah Pitaloka (aktivis sosial) tentang betapa senangnya Tuhan melihat anak-anakNya melakukan sesuatu buat orang-orang tertindas.

Kubuka jendela kamar,
Tuhan menyapa
“apa yang kau inginkan hari ini?”
“Tuhan, kataku, “merdekakan jiwajiwa tertindas”
Tuhan tersenyum di semerbak mawar


Demikian juga ketika Tuhan Yesus menyampaikan nubuatan nabi Yesaya bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang kepada mereka yang sedang beribadah di Nazareth, mereka membenarkan dan heran akan kata-kata indah yang diucapkan Tuhan Yesus. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Yesus ditolak dan diusir oleh orang-orang yang mengenal Dia sejak kecil. Kisah Tuhan Yesus ditolak di Nazareth (Lukas 4:24-30) menyatakan suatu kontras. Betapa orang yang semula begitu senang mendengar berita gembira tentang akan adanya kelepasan dari ketertindasan, segera berubah menjadi kemarahan, ketika hal itu mungkin tidak akan terjadi pada diri mereka tetapi kepada orang lain yang Tuhan lebih berkenan.

Bukankah, hal itu sering terjadi dalam kehidupan kita? Betapa senangnya ketika kita berhasil atau mendengar ungkapan-ungkapan yang memotivasi kita untuk berhasil. Perasaan itu segera berubah menjadi kemarahan dan menyalahkan seseorang ketika ada seseorang mengatakan kepada kita bahwa keberhasilan itu mungkin bukan merupakan bagian kita. Padahal seharusnya kita bertanya dan mawas diri (introspeksi) mengapa keberhasilan itu tidak terjadi dalam diri kita.

Peristiwa penolakan Yesus di Nazareth mengajarkan kepada kita, bahwa sebenarnya keberhasilan telah Allah sediakan pada kita karena kita telah melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Tetapi kemudian kita kecewa dan tidak dapat menerima ketika ada yang menyampaikan kelemahan-kelemahan kita. Dan akhirnya keberhasilan tidak berpihak lagi pada kita dan institusi kita. Allah sediakan kepada mereka yang mau ditegur dan mau melakukan perbaikan (IH)

Refleksi:
Roh Kudus mengungkap kelemahan-kelemahan kita, tetapi juga membantu kita dalam kelemahan-kelemahan yang kita miliki untuk tetap berkarya bagi kemuliaan Allah.