MENJADI ORANG YANG DIPERCAYAKAN RAHASIA ALLAH(2)

buka hati untuk tuhan

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah
memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”
(1 Kor 9:27)

Untuk menjadi teladan, Rasul Paulus sendiri melakukan dan mempraktekkan Firman Tuhan yang diberitakannya. Dia sendiri melatih dan mendisiplinkan hidupnya agar dapat hidup seturut dengan kehendak Bapa di surga.

Seorang olahragawan akan berlatih dengan giat agar dia memperoleh hasil yang maksimal dan berhak menyandang predikat juara. Latihan harus dilakukan setiap hari dengan penuh kedisiplinan. Latihan yang dilakukan pada awalnya terasa berat, tetapi pada akhirnya sang olahragawan akan menikmati hasilnya pada saat pertandingan tiba. Dia akan memperoleh kemenangan jika dia benar-benar melatih tubuhnya dengan baik. Bukan suatu hal yang mudah bagi kita untuk dapat menjadi teladan pada jaman sekarang. Begitu banyak godaan dan kompromi yang senantiasa mencoba untuk menjauhkan hidup kita dari Tuhan.

Tetapi untuk bisa menjadi teladan dalam sikap dan perbuatan kita, perlu adanya latihan. Melalui kehidupan sehari-harilah kita bisa melatih hidup kita. Tolak semua kompromi yang tidak berkenan di hadapan Tuhan dalam pekerjaan/studi kita. Jangan berlaku curang dalam studi, terutama pada saat ujian tiba. Dengan menjadi teladan, maka kita menjadikan diri kita orang yang dapat dipercaya. Tuhan menyingkapkan rahasiaNya kepada orang-orang yang dapat dipercaya (Dan 2:47). Semakin baik kita melatih kehidupan rohani kita, semakin besar kapasitas yang Tuhan percayakan kepada kita, semakin banyak pula rahasia-rahasia kerajaan sorga yang akan disingkapkan.

“Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” 1 Kor 4:2

Kampus adalah tempat kita berlatih. Pertandingan terjadi dalam kita menapakkehidupan sesehari.

Refleksi:“..yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. ” 1 Kor 2:7