KEBERANIAN ESTER MENGAMBIL RISIKO

“Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan
berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya,
baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa
demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan
dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati. “
(Ester 4 : 16)

Keberanian merupakan salah satu karakter keutamaan (virtue) yang dikembangkan oleh bangsa Yunani jauh 2400 tahun yang lalu. Keberanian menurut para filsuf klasik Yunani merupakan jalan tengah antara sikap gegabah dengan sikap pengecut. Terlalu berani atau lebih tepatnya dikatakan sebagai sikap yang sembrono atau gegabah, dinilai bukanlah sikap berani. Sikapnya yang terlalu berani mendatangkan kerugian bukan saja untuk dirinya sendiri, tetapi sikap sembrono ini juga dapat merugikan orang lain. Jadi seseorang dikatakan berani adalah seorang yang memiliki sikap jalan tengah antara gegabah dan pengecut tersebut, sikap jalan tengah ini muncul dari daya nalar yang dimiliki seseorang yang sanggup memperhitungkan untung dan rugi suatu tindakan bila dikerjakan.

Dalam pembacaan kita pada hari ini kita melihat tindakan berani yang dilakukan Ester (ay 16) bagi bangsanya, dengan meminta semua orang Yahudi berpuasa untuk Ester yang akan menghadap raja dengan risiko ia mati, karena tindakannya merupakan sebuah tindakan yang berlawanan dengan undang-undang yaitu raja berkenan menemui seseorang jika raja sendiri ingin bertemu dengan orang tersebut (Sekalipun Ester sendiri adalah seorang Permaisuri Raja). Keberanian Ester mengambil risiko dalam kasus ini bukan semata-mata hasil untung rugi dari nalarnya, dan sikap keberaniannya ini pun bukan sebuah sikap pasrah menerima takdir yang buta, namun sikap keberaniannya ini merupakan sebuah refleksi dari keyakinannya terhadap kehendak dan kebijaksanaan Allah seperti halnya dalam Daniel 3:17,18..

Melalui pembacaan di atas ternyata keberania tersebut bukan asal berani secara sembrono, tetapi (1) keberanian dihasilkan dari perhitungan yang matang melalui nalar, (2) keberanian juga merupakan refleksi dari keyakinan atas kehendak dan kebijaksanaan Allah dinyatakan dalam kehidupannya. Jelaslah bahwa keberanian adalah wujud pertimbangan nalar dan refleksi iman kita. (ITW)

Refleksi:
Keberanian = Perhitungan Rasional yang matang + Refleksi Iman