BELAJAR DARI PETRUS DAN YOHANES

“ Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa
keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal
keduanya sebagai pengikut Yesus.”
(Kisah 4 : 13)

Ada yang menyatakan bahwa agama merupakan lembaga yang dibangun berdasarkan pada seperangkat nilai ideal, dan prinsip yang diyakini berdasarkan dari Tuhan atau sesuatu yang transenden. Agama menawarkan arah hidup dan kondisi yang sangat ideal bagi pemeluknya, misalnya hidup penuh rahmat Allah, dekat dengan Tuhan bebas dari masalah menyiksa kehidupan dll. Akan tetapi dalam kehidupan manusia justru sulit sekali mewujudkan hal-hal yang ideal tersebut, akhirnya manusia terjebak pada rasa frustasi, merasa selalu berdosa dan tak berdaya. Akhirnya orang-orang di level grassroot sampai beberapa oknum pemuka agama bertindak menggunakan ajaran dan prinsip moral agamis untuk membenarkan hal-hal bejat yang dilakukannya, misalnya kekerasan atas nama agama, ‘main hakim sendiri’ dengan menggunakan ayat-ayat suci dll. Mereka bertindak dibalik jubah kesucian dan kefasihan mengutip ayat-ayat suci, namun penuh cela di hati dan kehidupannya sehari-hari.

Kondisi di atas bukan hanya cerminan kehidupan kita sekarang. Kondisi serupa pun terjadi 2000 tahun yang lalu, mana kala Petrus, Yohanes beserta murid-murid Kristus lainnya menerima kepenuhan Roh yang mendatangkan hikmat, dan keberanian untuk memberitakan kebenaran Allah (ay 8). Mereka dengan penuh keberanian menawarkan nilai-nilai baru yang sebenarnya juga merupakan penggenapan apa yang menjadi harapan Yudaiseme selama ini yaitu sang Juruselamat melalui kebangkitan Kristus (ay 12). Rahmat Tuhan diwujudkan melalui fenomena karunia kesembuhan dan hikmat pengajaran yang begitu luar biasa yang dilakukan para Rasul itulah yang mengguncangkan orang-orang saat itu, disebutkan kira-kira lima
ribu orang laki-laki menjadi percaya (ay 4). Perubahan spiritual yang radikal di kalangan grassroot orang-orang Yahudi saat itu membuat kalangan pemuka agama kelangkabut (frustasi), dan dengan memakai otoritas keagamaan yang dimilikinya mereka menghakimi Petrus dan Yohanes.

Kondisi orang-orang yang menjadi percaya saat itu mengalami lawatan dan
hadirat Tuhan, frustasi dan ketidakberdayaan lepas. Beranikah kita seperti Petrus dan Yohanes menghadirkan Rahmat Allah di tengah-tengah kehidupan manusia, membela yang lemah, menegakan keadilan, menyembuhkan yang sakit dan berbagai tindakan lainnya melalui karunia yang diperoleh dari bangku kuliah dan talenta yang diberikan Allah bagi kita untuk dilakukan bagi sesama? (ITW)

Refleksi:
Roh Kudus memberi Keberanian untuk menghadirkan Rahmat Allah