BERANI MENGADVOKASI

“ Abraham menyahut: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada
Tuhan, walaupun aku debu dan abu. “
(Kejadian 18:27)

Seorang Yap Thiam Hien menjadi nama yang melegenda di Indonesia, karena dikenal memiliki keberanian dalam membela hak-hak kliennya. Beliau membela berbagai kalangan tanpa pandang bulu, ia membela seorang tokoh partai terlarang yang pada jamannya dihindari untuk dibela, dan bahkan ia membela kasus pidana seorang anti tionghoa. Untuk itulah ia dikenal sebagai seorang “Pembela Segala Umat.” Yap memang sering kalah di pengadilan, sebab ia membela klien bukan untuk menang, melainkan untuk membela demi keadilan, kebenaran dan kemanusiaan kliennya. Yap membela bukan untuk kebebasan orang yang telah mengakui perbuatannya, akan tetapi pembelaannya ditujukan untuk memastikan segala hak yang dimiliki orang tersebut tidak ada yang terlanggar di dalam proses pengadilan.

Jika Yap memperjuangkan keadilan di pengadilan manusia, dalam pembacaan kita hari ini kita membaca bagaimana Abraham dengan gigih berjuang melakukan upaya ‘advokasi’ kepada Allah Sang Hakim Maha Adil untuk beberapa orang benar di Sodom dalam hal ini Lot sekeluarga. Abraham dalam doanya tersebut memohon agar Allah tidak membinasakan kota Sodom karena ada orang-orang benar di kota itu. Keberanian atau lebih tepatnya sebagai sebuah kelancangan Abraham kepada Allah melalui pernyataannya “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. “ Akan tetapi, Allah menjawab doa Abraham sekali pun bukan dengan cara yang diharapkan Abraham. Allah tidak menghukum orang-orang benar turut dihukum bersama dengan orang jahat, dalam hal ini Allah menyelamatkan Lot dan anak-anak perempuannya. Demikianlah Allah menyelematkan yang benar, dan membinasakan yang jahat. Dalam hal inilah keadilan Allah sang Hakim Maha Adil dinyatakan dalam kasus kota Sodom ini. Selain keberanian Abraham dalam memperjuangkan keadilan bagi orang-orang benar di kota Sodom dalam doa syafaatnya.

Tantangan bagi orang-orang percaya saat ini adalah dapatkah orang-orang percaya memainkan perannya seperti apa yang dilakukan oleh seorang Yap Thiam Hien atau Abraham. Orang-orang percaya dituntut keberaniannya untuk menjadi pemrakarsa keadilan ditengah-tengah masyarakat. Minimal keadilan di lingkungan kita terdekat.  (ITW)

Refleksi:
Allah Maha Adil mendorong Orang Percaya Berlaku Adil