KEDUDUKAN DAN KERENDAHAN HATI

“…melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang
hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia,
Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,bahkan sampai mati di kayu
salib”
(Filipi 2:7-8)

Ketika staf rektorat, termasuk Rektor kita turut memeriahkan acara perayaan HUT Kemerdekaan RI, hampir semua orang membicarakan kedekatan para petinggi kampus dengan segenap warga kampus. Kerendahan hati seseorang pantang dibicarakan jika hal itu keluar dari mulutnya sendiri. Saat terjadi demikian,gugurlah kerendahan hati itu. Kerendahan hati adalah atribut yang dikenakan pada seseorang oleh orang lain.

Ketika Yesus membasuh kaki para murid-Nya, semua tercengang. Yesus yang penuhhikmat membalas keterkejutan para murid-Nya. ”kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan,… jikalau Aku membasuh kakimu, … maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yohanes 13:13-14). Paulus menganalisis kesenjangan terbesar antara ke- Allah-an dan ke-hamba-an Yesus serta menuliskannya dalam teks diatas. Belajar dari hal tersebut, siapakah diri kita bagi sesama. Bila Allah saja sudah merendahkan Diri-Nya, sudah sepatutnya kita pun saling merendahkan diri dihadapan sesama. Ketika status sosial, ekonomi, tingkat pendidikan, kasta, atau apapun membuat sekelompok manusia merasa lebih baik atau lebih tinggi daripada yang lain, ingatlah firman yang ditulis sang pengkhotbah, bahwa baik binatang maupun manusia, sama-sama akan mati (bdk. Pengkhotbah 3:18-20). Saya sendiri pernah melihat tumpukan kerangka manusia yang sudah berusia ratusan tahun di Toraja. Saya tidak tahu bagaimana status mereka selama hidup, tidak ada yang mengenali kerangka-kerangka siapa yang bercampur baur itu, apalagi atribut-atribut selama hidupnya. Ada pahlawan yang dikenal dan dimakamkan di tempat terhormat, tetapi ada juga pahlawan lain yang jasadnya saja tidak ditemukan, bahkan tidak diketahui namanya.

Ada banyak orang di sekitar kita yang belum kita kenal. Kenali dan hormatilah mereka yang sudah menjadi sahabat maupun yang akan menjadi sahabat. (PO)

Refleksi:
Sudahkah kita melayani orang-orang di sekitar kita dan mereka menyatakan bahwa kita melakukan itu semua dengan kerendah-hatian?