MENJADI SAHABAT ALLAH

didikan

“…lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu
kepadanya sebagai kebenaran. Karena itu Abraham disebut sahabat Allah”
(Yakobus 2:23b)

Menjadi seorang sahabat bagi seseorang membutuhkan pengorbanan, komitmen, dan tentu saja kepercayaan. Tidak mungkin kita menjadi seorang sahabat tanpa setidak-tidaknya memiliki tiga aspek tersebut. Aspek kepercayaan, tanpa optimisme akan kebaikan yang terlihat maupun yang belum terlihat samasekali, sulit untuk membuat orang mau menjadi seorang sahabat.

Yesus menyebut para murid-Nya ”sahabat”, karena mereka percaya kepada-Nya. Abraham pun disebut ”sahabat Allah” karena dia percaya kepada Allah. Mendiskusikan kata ”percaya”, bukanlah hal yang mudah. Karena berbagai keterbatasan manusiawi, kita perlu berhati-hati untuk menaruh kepercayaan kepada seseorang, maupun menerima kepercayaan dari seseorang. Konsekuensinya, menjadi seorang sahabat, apalagi sahabat Allah tidaklah mudah. Firman Tuhan haruslah menjadi pelita bagi kita, Roh Kudus menjadi pemimpin kita, dan diri kita harus menjalankan peran dengan ketaatan dan hikmat yang Tuhan berikan. Setelah persahabatan (tinjauan kedua belah pihak) terbangun, terciptalah kedekatan. Kedekatan ini tidak harus selalu dalam arti fisik. Karena itu, setelah menjadi sahabat Allah, kini kita menjadi alat Allah untuk memberitakan Kabar Kesukaan yang tidak terbatas pada ruang dan waktu.

Seorang sahabat bagi sesama dapat menuntun dia kepada keselamatan. Ada banyak orang yang belum mengenal Sang Juruselamat. Karena itu, kita perlu menjadi sahabat bagi semua orang agar menjadi berkat bagi mereka semua, seperti Bapa di sorga, yang baik kepada orang jahat maupun kepada orang benar.(PO)

Refleksi:
Sudahkah kita dipercaya seseorang juga mempercayai seseorang, sehingga kita menjadi sahabat bagi orang itu?