MENCERAIKAN SEORANG SAHABAT

“…seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib….siapa membangkit-bangkit
perkara, menceraikan sahabat yang karib.”
(Amsal 16:28b, 17:9b)

Ada berbagai tingkat persahabatan (misalnya sahabat biasa, sahabat karib, sahabat yang seperti saudara), ada berbagai bentuk persahabatan (kolega, hubungan bisnis, suami-istri, dll). Kondisi yang membahagiakan dan menguntungkan kedua pihak ini bisa dirusak oleh pengkhianatan dan sikap mengungkit-ungkit keburukan di masa lalu.

Firman Tuhan menekankan perlu dan pentingnya sebuah persahabatan, bahkan persahabatan dengan Allah. Di lain sisi, ada banyak bahaya dari persahabatan yang salah dan ada hal-hal yang dapat merusak persahabatan. Persahabatan yang baik bisa menjadi berkat Allah bagi kedua belah pihak, bahkan dipakai Allah dengan luar biasa untuk menjadi berkat bagi lebih banyak orang. Sebaliknya, persahabatan yang buruk dapat menjauhkan orang dari Sang Pencipta, yang berujung kematian kekal. Pengalaman Mahatma Gandhi yang ditolak orang Kristen di gereja memiliki dampak dalam pengakuan imannya. Persahabatan dapat memiliki dampak kekekalan. Oleh karenanya, kita perlu menyikapi dengan serius, berpikir, dan bertindak sebagai hamba Allah.

Setiap orang menjadi ujian bagi kita, apakah kita dapat menjadi sahabat bagi mereka. Meskipun demikian, ada suatu fenomena yang tersembunyi, bahwa ada kalanya seorang sahabat tidak pernah dikenal sebelumnya, misalnya pada perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Mungkin juga kita menjadi sahabat yang tidak dikenal sebelumnya bagi orang-orang di sekitar kita, namun pikiran dan tindakan kita bisa berdampak kekekalan bagi mereka. Jika kemudian kita dikenali menjadi sahabat bagi mereka, maka peliharalah persahabatan itu. (PO)

Refleksi:
Sudahkah kita dipercaya seseorang untuk menjadi sahabatnya?