INTIM KARENA PERJUMPAAN

“ Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu
dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.”
(Kisah Para Rasul 11:24)

11 Juni dalam tradisi Gereja Katolik adalah sebuah perayaan menghormati Santo Barnabas. Barnabas berasal dari Siprus, keturunan Yahudi dari suku Lewi. Nama aslinya Yosef tetapi oleh para rasul diganti menjadi Barnabas berarti Putra Penghiburan. Dalam Bahasa Aram bar naḇyā berarti Putra Nabi. Dari makna nama ini, memang sangat melekat dengan personalitasnya. Ia berjumpa dengan Paulus dan membawanya kepada para murid serta menceritakan kisah pertobatan Saulus menjadi Paulus dalam perjalanan ke Damsyik. Ketika Paulus berada di Tarsus, Barnabas menjemputnya dan membawanya ke Antiokhia. Di Antiokhia, Tuhan Allah Roh Kudus sungguh-sungguh bekerja di dalam diri mereka. Pada suatu ketika, sambil berpuasa dan berdoa, Roh Kudus menaungi mereka dan berkata: “Khususkanlah Barnabas dan Paulus bagiKu untuk tugas yang telah kutentukan bagi mereka!” Setelah berpuasa dan berdoa, mereka meletakkan tangan ke atas kedua orang itu dan membiarkan keduanya pergi. Mereka berlayar ke Siprus. Di Antiokhia, untuk pertama kali para pengikut Kristus di sebut Kristiani.

Kisah kehidupan Barnabas sangat inspiratif. Ia memiliki keberanian untuk keluar dari Yerusalem untuk menjadi rasul di Antiokhia. Ia juga berani menjumpai Paulus yang barusan bertobat dan mempertemukannya dengan para rasul. Menjadi pewarta khabar sukacita memang membutuhkan keberanian. Di samping keberanian Barnabas, ia juga menunjukkan semangat rela berkorban bahkan nyawanya pun dikorbankan bagi Yesus. Sikap ini yang patut kita ikuti. Menjadi misionaris yang membawa kasih Allah kepada banyak orang di negeri-negeri lain membutuhkan keberanian dan pengurbanan diri. Allah Roh Kudus sendiri mengatakan: “Khususkanlah Paulus dan Barnabas untuk tugas yang telah kutentukan”. Tugas untuk mengajar, mempertobatkan, menginjili bangsa-bangsa.

Sebagaimana kehidupan Barnabas yang berani keluar dari lingkungannya, demikianlah kita seharusnya keluar dari kenyamanan kita dan bergerak menjadi penghibur bagi orang lain dalam setiap perjumpaan kita dengan sesama. (AL)

Refleksi:
Tuhan yang maha baik, jadikanlah kami penghibur yang berani keluar dari zona nyaman kami dan menjumpai orang lain.