PERIKHORESIS

“ …dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. ”
(Matius 28:19b)

Istilah perikhoresis berasal dari kata bahasa Yunani yang berarti saling merangkul dan meresapi. Menurut Boff dalam konsep Yunani istilah ini memiliki makna ganda yakni pasif dan aktif. Dalam artian pasif, satu terkandung dalam yang lain, tinggal dan ada dalam yang lain, sebuah situasi yang nyata dan statis. Jika dikenakan dalam arti Trinitas, maka satu Pribadi berada dalam yang lain, dikelilingi dari segala sisi oleh yang lain. Artinya keduanya menempati ruang yang sama saling mengisi dengan kehadiranNya. Dalam artian aktif, yakni saling resap dan saling anyam antara satu Pribadi yang lain dengan Pribadi yang lain atau dalam Pribadi yang lain. Konsep ini hendak mengungkapkan proses hubungan yang hidup dan abadi antar Pribadi- Pribadi Ilahi, di mana satu Pribadi meresapi dan menjiwai Pribadi ilahi yang lain.

Jadi, dalam konsep perikhoresis ini ada suatu dinamika hubungan resiprokal dan saling meresapi di antara Pribadi-Pribadi Ilahi tersebut. Dalam kitab suci ungkapan yang bermakna perikhoresis ini juga sering diwartakan oleh Yesus sendiri. Misalnya, “Aku dan Bapa adalah satu”(bdk. Yoh.10:30), atau “Aku dalam Bapa dan Bapa dalam Aku”( Yoh 14:11; 17-21). Menurut Boff model persekutuan perikhoresis merupakan model yang tepat untuk mengungkapkan wahyu Trinitaris sebagaimana yang
diwartakan dalam injil.

Trinitas menciptakan suatu persekutuan yang terbuka. Seorang pribadi manusia hendaknya tidak berlindung dalam dunia sempit hubungan interpersonal sehingga ia tidak dapat menjalin hubungan dengan yang lain, hubungan sosial dan historis, hubungan transpersonal dan struktural. Menjadi dan berada dalam suatu persekutuan tidak boleh jatuh ke dalam konsep keterasingan personalisme. Kritik ini berkaitan erat dengan kehidupan jemaat. Dalam suatu jemaat hendaknya ada keakraban satu dengan yang lain dan saling menyapa dengan nama dan saling mengisi dalam kehidupan. Jemaat yang terbentuk haruslah jemaat yang terbuka bukan suatu jemaat yang tertutup. (AL)

Refleksi: Keintiman dimulai dengan persahabatan.