KEINTIMAN DALAM ILHAM SANG TRINITAS

“ …dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. ”
(Matius 28:19b)

Menurut Leonard Boff, pemahaman yang tepat tentang Trinitas tersebut seharusnya menjadi kritik tetapi sekaligus menjadi inspirasi bagi komunitas masyarakat manusia. Baginya, apa yang terjadi dalam komunitas masyarakat manusia secara umum justru menunjukkan kesalahpahaman tentang Trinitas, atau dengan kata lain tidak Trinitarian. Misalnya, status ayah identik dengan orang yang memiliki pengetahuan dan kekuasaan yang membuat keputusan dalam keluarga. Paternalisme adalah model bagi hubungan keluarga dalam masyarakat luas. Dengan kata lain, bahkan secara gamblang Boff menegaskan bahwa masyarakat cenderung membenarkan setiap bentuk otoritarianisme, paternalisme, tirani, atau individualisme otonom dalam hubungan politik, ekonomi, gerejawi, seksual, dan kekeluargaan. Hal ini berakar pada pemahaman Trinitarian yang monoteistik, yakni pemahaman yang terlalu menonjolkan peran suatu Pribadi saja.

Selain menjalankan fungsi kritis, persekutuan Trinitaris juga merupakan sumber ilham bagi praktek kehidupan masyarakat, khususnya bagi kaum Kristen yang berjuang demi suatu perubahan sosial dalam masyarakat. Dalam konsep Trinitaris setiap Pribadi dari tiga yang berbeda menerima perbedaaan yang lain. Hal ini menggambarkan bahwa sikap menerima yang lain dan memberi diri merupakan gambaran tentang perbedaan dalam persekutuan. Dalam Trinitas tidak ada dominasi satu pihak, tetapi merupakan konvergensi dari ketiganya dalam sikap saling menerima dan memberi. Mereka berbeda namun tak ada yang lebih besar atau lebih kecil, yang dahulu dan kemudian, yang berkuasa dan yang ditindas.

Karena itu, menurut Boff sebuah masyarakat yang diilhami oleh persekutuan Trinitaris tidak pernah mengafirmasi adanya kelas-kelas sosial dalam masyarakat atau dominasi kelompok sosial tertentu terhadap yang lain. Oleh karena itu, masyarakat yang hidup dalam inspirasi Trinitas akan menjadi masyarakat yang ditandai oleh persaudaraan dan kemitraan. Di sana ada ruang bagi kebebasan dan martabat manusia untuk bertumbuh. Hanya masyarakat yang hidup dalam semangat sebagai saudara dan saudari yang bisa mengklaim diri mereka sebagai gambaran dan cerminan dari persekutuan Trinitas. (AL)
Refleksi:
Keintiman berarti kesetaraan tanpa dominasi