KEINTIMAN DALAM REALITAS

“Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang
menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita.”
(Amsal 14:21)

Dunia Teologi Spiritualis pernah memiliki seorang tokoh modern bernama Henri Jozef Machiel Nouwen yang berkata “Kita tahu bahwa tanpa keheningan, katakata kehilangan makna. Tanpa mendengarkan berbicara tak memulihkan. Tanpa jarak, kedekatan tak dapat menyembuhkan.” Selama lebih dari dua dasawarsa, Nouwen mengajar di beberapa institusi pendidikan yang terkemuka, seperti Universitas Notre Dame, Universitas Yale, dan Universitas Harvard. Suatu hari penulis spiritualitas lain bernama Jean Vanier mengutus seorang ibu untuk mengunjungi Henri dan membantu kehidupan sehari-hari pastor muda ini. Sebelumnya, Henri Nouwen sempat menulis nama Jean Vanier yang dikaguminya di dalam sebuah bukunya walaupun ia belum pernah berjumpa dengan tokoh in.

Ibu itu tinggal di kediaman Henri selama beberapa minggu, mengurusi kebutuhan sehari-hari Henri. Dan Henri terus menunggu, pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Jean Vanier melalui utusannya itu. Namun hingga hari terakhir, tak ada pesan apapun yang disampaikan oleh ibu itu. Rupanya, kehadiran ibu itu sendirilah yang menjadi pesan yang ingin disampaikan oleh Jean Vanier.

Pengalaman tersebut rupanya sangat membekas bagi Nouwen. Singkat cerita, Nouwen kahirnya memutuskan meninggalkan karier akademisnya yang cemerlang dan bergabung dengan komunitas L’Arche Daybeak di Ontario, Kanada. Komunitas yang khusus melayani pria dan perempuan dengan disabilitas intelektual ini sangat memikat hati Nouwen. Dalam persahabatan tersebut, Nouwen menembukan cinta Ilahi yang otentik. Salah satunya adalah persahabatan Nouwen dengan seorang pemuda yang hidup dengan disabilitas intelektual yang paling parah. Adam Arnett namanya.

Dalam artikel yang ditulis oleh Philip Yancey, “The Holy Inefficiendy of Henri
Nouwen,” dimajalah Christianity Today, disebutkan betapa terkesannya Yancey atas karya spiritualitas Nouwen yang mendedikasikan setiap jam dari kehidupannya untuk merawat Adam yaitu “memandikan dan mencukur kumis [Adam], menggosok giginya, menyisir rambutnya, menuntun tangannya ketika ia berusaha menyantap makan pagi. Tindakan-tindakan sederhana yang diulang-ulang itu baginya telah nyaris menjadi seperti sebuah meditasi.” (AL)
Refleksi: Persahabatan intim harus hadir dalam realitas.