TIDAKKAH KAU MENGENAL AKU? (TUHAN ALLAHMU)

“Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.”” (Yohanes 14:9)

Beberapa orang tua yang menyekolahkan anaknya keluar kota atau bahkan ada yang keluar negeri pasti merasa “kehilangan anak tersebut”. Karena anak yang sehari-hari bersama-sama, yang dilihat setiap hari menjadi tidak bersama-sama lagi. Mungkin komunikasi yang dilakukan setiap hari melalui telepon atau media komunikasi lainnya, tetapi keberadaan anak yang menjadi jauh membuat seperti ada sesuatu yang hilang. Orang tua yang menyekolahkan anaknya keluar kota atau keluar negeri tidak tahu persis bagaimana kehidupan si anak disana: bagaimana kondisi sekolahnya, tempat tinggalnya, lingkungannya, siapa teman mainnya, bahkan yang paling penting bagaimana persekutuannya dengan Tuhan. Setiap liburan sekolah sang anak mungkin dapat pulang, namun kehidupannya di tempat yang lain itu tetaplah “rahasia” bagi orang tua.

Dari perenungan kitab Yohanes diceritakan tentang Filipus yang sehari-hari
bergaul dengan Tuhan tetapi yang mengejutkan dia tidak mengenal siapa Tuhan. Mengherankan karena harusnya Filipus dapat secara langsung menanyakan perihal Tuhan yang ia tidak pahami. Seharusnya kebersamaan dengan Yesus membuatnya cerdas dan berhikmat. Tetapi, dari teguran Tuhan kepadanya (ayat 9), tampaknya Filipus belum mengenal siapa Tuhan sesungguhnya. Dan bukan hanya Filipus yang demikian, melainkan Thomas juga. Pertanyaan Thomas pada ayat 5 menunjukkan ketidaktahuannya tentang siapa Tuhan dan apa tujuan-Nya datang ke dunia ini.

Firman ini menjadi refleksi bagi kita: apakah kita sudah betul-betul mengenal Dia Sang Juruselamat kita? Pada “hari terakhir”, Tuhan secara terus terang menyatakan banyak orang yang “tidak pernah dikenal oleh-Nya”, padahal mereka mengaku telah “bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Nya” (Matius 7:23). Apabila kita berpikir: kehilangan segala sesuatu termasuk kehilangan anak memang suatu kerugian besar, maka “kehilangan Dia” jauh lebih besar dan sungguh tidak terbayangkan. (CSB)

Refleksi:
Berusahalah untuk sungguh-sungguh mengenal Allah, sebab tidak semua orang berhasil mendapatkanNya.