KEMBALI (YANG DAHULU DAN YANG SEKARANG)

“Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku disini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa”
(Lukas 15:17-18)

Dengan kemajuan teknologi media sosial, kita dapat menemukan kawan yang sudah lama tidak berjumpa. Ada sebuah cerita, seorang kawan menghubungi kawan lainnya melalui media sosial. Setelah bernostalgia dan menanyakan kabar, mereka bertukar informasi tentang kondisi terkini. Alangkah terkejutnya kawan yang satu ketika mengetahui kawannya tersebut, sudah lama jauh dari Tuhan dan tidak aktif lagi dalam pelayanan. Padahal dulu keduanya sama-sama aktif dalam pelayanan baik di gereja maupun di sekolah. Dulu temannya itu adalah orang yang termasuk paling semangat jika melaksanakan hal-hal yang rohani. Sepanjang pembicaraan, teman tersebut menceritakan keadaaannya sekarang serta membandingkan dengan keadaan dulu.

Mendengar kisah dari dua orang sahabat tersebut, kita dapat membandingkan dengan kisah anak yang hilang. Teman yang jauh dari Tuhan dan si anak yang hilang, sama-sama menyadari keadaan mereka yang jauh dari Tuhan. Akan tetapi anak yang hilang tersebut memutuskan untuk bertindak, ‘Aku akan…’ (ayat.18). Inilah yang membedakan antara anak yang hilang dan teman yang jauh dari Tuhan tersebut. Teman tersebut hanya mengeluh sambil mengenang kesuksesan masa lalunya, tetapi tidak melakukan apa-apa untuk memulihkan dan memperbaiki keadaan. Sementara anak yang hilang memutuskan untuk bertindak. Anak yang hilang mengetahui ada jarak yang dibuat akibat kesalahannya, tapi dia berusaha mendekatkan kembali jarak yang jauh tersebut.

Meskipun Tuhan tidak pernah meninggalkan kita atau membiarkan kita seorang diri, mungkin saja kita merasa jauh dari Tuhan. Jika begitu yang dapat dilakukan adalah “bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan…” (Wahyu 2:5), bukannya meratapi keadaan sekarang. Meratap tidak akan mengubah apa-apa, tetapi pertobatan menyadarkan kita kembali akan penyertaanNya. Mendekatkan yang jauh dan menjadikannya sebuah keakraban. Seperti bapa dalam perumpamaan Yesus sampaikan, Ia sudah menanti dan siap memeluk kita. (CSB)

Refleksi:
Tidak cukup hanya menyadari keadaan kita, kita perlu melakukan sesuatu untuk mengubahnya.