STATUS YANG MEMPERSATUKAN

Senin, 21 September 2014

STATUS YANG MEMPERSATUKAN

“dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.”
(Kolose 3:11)

Anda pasti pernah dengar kata ‘ecclesia’, bukan? Semua orang Kristen dipanggil Tuhan untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman bukan untuk berkubu di dalam kaumnya saja, tapi untuk bersaksi keluar. Gaya hidup jemaat mula mula yang berhasil melakukan hal tersebut dengan indahnya diceritakan di dalam Kisah Para Rasul 2:41-47. Selain bisa menjalani kehidupan berkomunitas dengan baik, mereka juga bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya yang belum mengenal Yesus. Tidak hanya itu, mereka bahkan disukai oleh semua orang. Hal ini mungkin agak sulit kita dapatkan saat ini karena perbuatan baik yang kita lakukan seringkali diasumsikan sebagai usaha Kristenisasi. Kira-kira apa yang memampukan jemaat mula-mula untuk mampu berkomunitas dengan baik?

Sebuah komunitas hanya bisa memberi dampak besar bagi orang-orang di sekitarnya apabila orang-orang di dalamnya kompak. Tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan status dan golongan adalah salah satu hal yang kadang mempersulit kekompakan komunitas walaupun sudah dipersatukan oleh Kristus. Contohnya saja, ketika pihak yayasan, pejabat struktural dosen, mahasiswa, TAT, dan TKT di kampus kita tidak dapat menganggap satu sama lainnya sebagai rekan sekerja yang setara dan sama pentingnya, maka tidak akan terbentuk sebuah komunitas yang sehat. Selain itu,
perlu ada tujuan yang sama dari sebuah komunitas. Tanpa dua hal itu, maka menjadi satu tubuh dalam Kristus pun akan sulit, apalagi menjadi saksi di tengah masyarakat. Di zaman sekarang mungkin kita tidak lagi menemukan orang berstatus budak di dalam komunitas kita, perbedaan suku atau bangsa pun tidak menjadi isu besar seperti zaman orang tua kita. Akan tetapi kebanggaan akan status dan pencapaian pribadi bisa saja membuat kita lengah dan membeda-bedakan sesama kita saat berkomunitas. Hal ini lebih mudah terjadi di lingkungan kampus dibandingkan di gereja, karena di kampus jabatan dan gelar akademik seseorang sangat diperhatikan dan berpengaruh terhadap banyak hal. Berjaga-jagalah akan hal ini, jangan sampai hal tersebut akhirnya membuat kita kehilangan kesempatan untuk memenuhi tujuan hidup kita! (II)

Refleksi :
Ketika status duniawi membuat jurang pemisah, status sebagai anak Tuhanlah yang dapat mempersatukan kita sebagai satu komunitas.